Kamis, 01 November 2012

SKRIPSI #3

,


Sesuatu yang besar, yang agung berafeliasi dengan entitas makhluk yang sedang mencari hakikat kebenaran…
Maha dan Siswa
: Mahasiswa (!)

Hakikat Mahasiswa adalah aktualisasi Tridarma Perguruan Tinggi dalam setiap nafas perjalan hidupnya, sampai melekat erat dalam sendi-sendi nadi…
Tridarma Perguruan Tinggi
: Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian (!)

Dinamika Mahasiswa, terkerangkeng oleh keadaan yang tercipta secara terstruktur dan sistematis oleh kekuatan besar yang tidak mampu kita dibendung. Sehingga, kita tidak bisa membedakan: mana hakikat dan mana formalistik.
Mahasiswa Paripurna
: Skripsi (?)

Sabtu, 27 Oktober 2012

SKRIPSI #2

,



Sekripsi, oh Skripsi..

..perjalananmu diam-diam didalam fikiranku, membuat akumulasi kegalauan dalam kedalaman diri ini..

My mind..

Berbicara tentang mata kuliah, dosen, kurikulum, fasilitas kampus, aturan mahasiswa, sistem seolah hanya menjadi kewenangan para Teknokrat Kampus. Mahasiswa tidak mempunyai andil disana!

What the mean?

Mungkin, tugas Mahasiswa hari ini adalah memaksimalkan potensi: guna memaksimalkan pelayanan yang disediakan oleh para teknokrat tersebut.

Cukup itu? Memaksimalkan potensi! tidak lebih!?

Apakah hal ini berarti bahwa: yang berperan sebagai subjek adalah para Teknokrat Kampus. Objeknya adalah Mahasiswa.

(?)

Kalau begitu adanya, apa guna UKM, untuk apa ada HMPS, BEMF!?

Apakah semua itu bagaian dari fasilitas yang disediakan oleh kampus, Teknokrat, sebagai media aktualisasi para Mahasiswa!?

Media aspirasi? Menuntut kewenangan yang lebih, bgi Mahasiswa…!?

Sampai hari ini, saya tidak melihat itu, media penyalur aspirasi mahasiswa! Kecuali dirimu: tulisan-ku.

Beberapa tahun terakhir ini saya sering melihat para Mahasiswa turun kejalan, menyuarakan aspirasi mereka. Bentuk penolakan terhadap akan diterapkannya BHP di kampus, yang akan dilegalitaskan melalui UU.

HAPUSKAN BHP…!!

TOLAK LIBERALISASI KAMPUS!

…itu yang saya ingat. Selebihnya, saya tidak faham. Apa itu BHP, kenapa di Tolak kawan-kawan mahasiswa, sampai sedemikian rupa.

Namun, sampai hari ini, ketika kehadiranmu diam-diam dlam fikiranku, membuat krangka berfikir ini menelaah dalam-dalam.. Kenapa tidak ada suara penolakan satu pun terkait BLU. Padahal baik BHP maupun BLU dua-duanya sama saja: seputar-sekitar liberalisasi kampus. Perbedaannya, BHP berkaitan dengan Badan Hukum. Kalau BLU berkaitan dengan sistem.

Hmm,

Kenapa bisa demikian?

Secara empiris, entah disengaja ataupun tidak, metode kehadiran BHP itu dengan menggunakan gerakan top-down. Sehingga aromanya tercium seantero nusantara. Namun, kehadiran BLU itu batten-up, BLU hadir secara softing ditiap-tiap kampus dengan menawarkan berbagai kebaikan, tawaran-tawaran yang menguntungkan. Biasanya berupa: dana bantuan oprasional, ataupun yang paling efektif beasiswa bagi para calon mahasiswa. Dalam rangka perbaikan citra BLU di kampus terkit! Dan ini berlangsung secara sistematis dan radikal. Tanpa kita sadari bersama: ia ada..

OMG..

Sejatinya, dalam ajaran Islam itu kan jelas, bahwa Ujian itu tidak hanya berupa hal-hal yang tidak kita sukai: musibah, tetapi hal-hal yang kita sukai pun, itu merupakan ujian dari-Nya: nikmat.

Hmm,

Secara umum, baik BHP maupun BLU, berimplikasi pada liberalisasi kampus di seluruh Indonesia. Segala hal yang berkaitan dengan ke-kampus-an menjadi tanggungjawab para teknokrat kampus secara umum, dan minimnya campur-tangan Negara disana.

Konkretnya, mahasiswa membayar uang kuliah, belajar disana, melakukan penelitian dan para teknokrat kampus melayani mahasiswa dengan segala fasilitas-fasilitas pendidikan yang ada di kampus tersebut. Baik berafeliasi ataupun tidak, itu menjadi kewenangan kampus..

Pertanyaan kemudian, bagaimana dengan kampus-kampus yang fasilitas pendidiknnya belum mapan. Masih minimalis, atau sedang dalam pengembangan!?

BHP/BLU tidak mempersoalkan itu. Berkaitan dengan pendanaan, itu semua menjadi otoritas para teknokrat kampus. Dalam hal ini, kampus bisa memaksimalkan sumbangan dari perusahaan atau lembaga lain (dengan krangka hubungan timbale balik, tentunya), pembayaran uang kuliah mahasiswa (cepat atau lambat: meroket!) dan terakhir mengembangkan penelitian kampus, sehingga memiliki nilai lebih.

BHP/BLU merupakan sistem yang diadopsi dari kampus-kampus mapan yang ada diluar negeri. Tentunya, dengan pendanaan yang kuat, memiliki sistem mengakar, fasilitas yang luar biasa dan yang paling penting, hasil penelitian mereka bisa bersaing di pasar-pasar industry/iptek. Sehingga liberalisasi kampu, no problem! Bersaing, its ok..

Namun, jika sistem tersebut diadopsi pada kampus-kampus yang ada di Indonesia… (?)

Maybe..

Biaya kuliah menjadi mahal, sulit dijangkau oleh generasi bangsa secara umum..

Kampus menjadi tempat produksi serjana-serjana bangsa yang siap kerja, siap menjadi buruh-buruh kantor, atau mungkin masuk dalam daftar indeks: serjana-serjana muda menganggur..

Mahasiswa dipropaganda untuk percepatan pelaksanakan atau menelurkan sebuah penelitian: Skripsi dan yang sejenis dengannya..

Hmm,

Skripsi, oh Skripsi..

..aku meyakini, engkau beserta para pemujamu bukanlah Kambing-Hitam, atas semua..

Salam senyum: mentap masa depan..

@giladisem :)

Rabu, 24 Oktober 2012

SKRIPSI #1

,



Akhir-akhir ini, ada fenomena menarik yang saya alami: terkait Skripsi.
 


Mungkin ini merupakan gejala umum, yang dialami oleh seluruh mahasiswa pada semester-semester akhir, atau hanya pengalaman pribadi. Entahlah! Untuk hari ini, saya hanya bisa berspekulasi.

Di kampus, di kelas, di sela-sela pembelajaran, di pembicaraan santai, bahkan di jejaring sosial atau media lainnya, tema-tema terkait Skripsi begitu hangat. Bahkan tak jarang, beberapa mahasiswa yang memposisikan tema Skripsi menjadi tema hot. Nuansa propaganda Skripsi seolah begitu dekat. Terlepas dari terpropaganda atau tidak. Atau apakah mampu atau tidak menggapai maqam Skripsi tersebut. Atau mungkin: santai ajee daach.. (hehe).

Dalam paradigma kaum sosialis dan atau madzhab anti neo-lib, maka tema-tema Skripsi menjadi sesuatu hal yang biasa saja. Tidak ada reaksi yang signifikan guna merespon propaganda tersebut. Karena bagi penganut paradigma ini, percepatan selesainya Skripsi berarti percepatan proses pembelajaran, dan juga otomatis percepatan terciptanya para serjana-serjana baru. Implikasinya: sistem pendidikan tidak ada ubahnya seperti sistem produksi. Sekolah/kampus sama dengan mesin produksi (input-proses-output) yang berorientsi pada permintaan publik.

Hmm, apakah anda sepakat dengan rasionalisasi “mereka”?

Well, cukup sulit untuk diterima memang, terkait rasionalisasi tersebut. Namun, bagi mereka: ini merupakan sebuah keyakinan, tidak hanya sebatas pengetahuan atau rasionalisasi. Bahwa pendidikan tidak hanya tentang input-proses-output yang berorientasi pada permintaan publik. Sehingga “proses” menjadi terjebak dalam krangka formalistik. Dan ini berimplikasi langsung terhadap membiasnya nuansa-nuansa “didik” dalam tem “pendidikan”.

Ora mudeng, opo iki..

Yang pasti, sederhananya, sistem itu mau-tidak-mau harus tetap ada. Tetapi, tidak terjebak dalam krangka orientasi pasar (permintaan publik). Maksudnya, (1) proses pendidikan tidak terjebak dalam krangka formalistik, (2) harus ada korelasi yang harmonis antara proses pembelajaran, teori-teori yang dipelajari, dengan realitas masyarakat, dengan permasalahan-permasalahan yang ada.

Makin ga faham kann..!! Yo wiss, kita skip dulu dech.. (hehe)

Pause

Pertama, berbicara tentang sosialis, bukan berarti saya adalah sosialis (anti neo-lib), ini hanya sebuah refleksi. Kedua, supaya lebih berimbang, alur pada tulisan berikutnya dalam konteks paradigma kaum liberalis (siapa cepat, dia dapat: wisuda! (hehe)). Ketiga, setelah itu, maka kita akan dapat dengan mudah menemukan positioning-diri. Keempat, kita tinggal mengambil sikap: fokus.

Play

Salam hangat, Gilad Gibran..
Mahasiswa semester akhir UIN Jakarta.

Kamis, 26 Juli 2012

Kenapa? Entahlah.

,

Enam-belas-tahun-yang-lalu..

Malam itu seperti malam biasanya: gelap-gurita. Namun, terasa berbeda. Setidaknya: bagiku dan kehidupanku. Malam itu, menjadi malam yang paling menyeramkan dalam hidupku, sangat mencekam.

Enam-belas-tahun-yang-lalu..

Sebuah tangis yang begitu hebat, keluar dari mulutku: tanpa tahu mengapa. Seolah ia ingin mengalahkan segala bunyi yang ada di rumah itu. Tanpa henti, meraung-raung. Satu nama yang keluar dari mulutku: maammmaaah, mmamaah, maamaaah. Terus mengulangnya.

Nyi Mae panik, namun ia tidak mempertemukanku dengan 'mamah'.

Pause 


Kenapa? Entahlah.

Padahal jarak antara aku dengan 'mama' hanya terbatasi oleh satu dinding. Ruang-tengah dan ruang-tamu. Dekat memang, tapi terasa jauh!

Play

Nyi Mae hanya berusaha menenangkanku, menggendongku, walau itu sia-sia. Raungan itu dan kata 'mama' yang keluar dari mulut ini, tak terbendung. Hingga akhirnya, tiga-puluh-menit berlalu. Nyi Mae pun menyerah dan menyerahkan gendongan aku kepada 'mamah'. Sambil duduk dipangkuan 'mamah' yang sedang duduk di kursi sofa ruang-tamu. Aku merasa lebih tenang, sangat tenang. Nyaman.

Kenapa? Entahlah.

Aku tak tahu persis, yang jelas raut-muka itu tidak seperti biasanya: serius dan tegang. Mamah, bapak, 'uwa-uwa' dan para tamu lainnya. Tanpa senyum. Kupeluk 'mamah' sekuat tenaga, semampuku.

Kenapa? Entahlah. 

Tak lama setelah itu, akupun diserahkan kembali oleh 'mamah' kepada Nyi Mae. Aku tak tahu mengapa 'mamah' seperti itu. Tangis itu terulang lagi, air-mata tak tertahankan. Namun, tangisanku yang kedua ini, diakhiri dengan rasa lelah dan lemas karena terlalu lama menangis. Hingga tidurpun tak terelakkan.


Enam-belas-tahun-yang-lalu..

Kenapa? Entahlah. 

Pagi itu aku tak ingat persis, bagaimana ekspresi dari raut muka mamah dan teteh. Pagi itu yang ku ingat, adalah dengan tas-besar bapak, aku dan kaka laki-lakiku berjalan menjauhi rumah. Menjauhi kampung-halamanku.

Malam harinya, kami sampai di Cibinong, Bogor. Menetap untuk waktu yang tidak singkat. Aku tersadar: mulai saat itu aku terpisah dari kampung-halamanku sampai waktu yang tak 'kuketahui.

Tahun berikutnya, kami pindah ke Cisoka, Tanggerang. Kemudian ke Santiong, Balaraja!

***

Hari demi hari kujalani sebaik mungkin. Hingga akhirnya, satu demi satu tanda-tanya itu terjawab dengan sendirinya. Ternyata, enam-belas-tahun-yang-lalu.. merupakan saat-saat dimana 'mamah' dan 'bapak' broken home: cerai. 'Mamah' yang meminta cerai kepada 'bapak'. Itu yang ingin kuketahui. Selebihnya: lebih baik baik jadi rahasia yang tak harus kuketahui.

Terimaksih Tuhan atas kehidupan yang telah engkau anugrahkan!

Semoga Berkah Rahmat Ilahi Melimpahi Kami Sekeluarga..

Rabu, 25 Juli 2012

Nilai

,
Jika 'empat' merupakan simbol dari kesempurnaan, maka bersyukurlah dengan 'ketidaksempurnaan'. Itu merupakan cerminan kehidupan: yang tidak-pernah-sempurna.

Pause

Hei: tiga koma sembilan.
'ku syukuri ketidaksempurnaanmu!

Play

Salam hangat,
Gilad

Jumat, 25 Mei 2012

Titik Sadar

,

Dalam kurun waktu sepuluh-bulan-terakhir ini, seolah banyak hal yang harus aku pikirkan. Berkaitan dengan kehampaan-hidup yang tiba-tiba hadir dan mengendap dalam jiwa ini. Entah mengapa? Ya, entahlah! Aku hanya bisa berspekulasi bahwa ini merupakan caranya Tuhan untuk berkomunikasi dengan makhluk-Nya, memproses transformasi hidayah: menyadarkan sang makhluk untuk mencapai titik-sadarnya. Tentang realitas makhluk sebagai makhluk, dan Tuhan sebagai Tuhan dengan segala koneksitas dan preogritas-Nya.

Terkadang dalam hidup ini, tidak semua hal bisa kita rasionalisasikan dalam konteks positifistik. Kehidup-an juga mempunyai khazanah yang bersifat metafisik dan sulit atau bahkan tidak dapat dirasionalisasi-kan, baik melalui rumus-rumus, teori-teori atau diktat-diktat yang tersedia. Namun, saya kira: tidaklah Tuhan menciptakan segala sesuatu ini dengan sia-sia! Jadi, baik hal yang bersifat fisik maupun metafisik, keduanya mempunyai tujuan-penciptaannya tersendiri. Sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Sang Pencipta. Walaupun terkadang, belum terbahasakan oleh kata-kata, belum tersurat oleh literatur yang ada dan juga belum terdefinisikan oleh akal manusia. Pada hakikatnya: sesuatu hal yang belum kita ketahui, belum tentu tidak ada. Bisa jadi, sesuatu itu ada tetapi kita belum mengetahui keberadaannya.

Dalam hal ini, harus ada kore-lasi yang harmonis antara kehendak Tuhan dengan dinamika kosmo, perjalanan tata-nilai-kehidupan makhluk-Nya dalam koridor: sunatu-llah. Manusia sebagai bagian dari kosmo, mempunyai peran yang sama dalam menginternalisasi kehendak Tuhan. Walaupun manusia mem-punyai keistimewaan tersendiri, yakni sebagai makhluk-merdeka. Oleh karena itu, kemerdekaan yang dimiliki oleh manusia harus diimbangi dengan prangkat-lunak-utama yang dimiliki secara kodrati olehnya, yaitu akal. Dengan akal manusia dapat memaksi-malkan kemerdekaan yang ia miliki dengan pertimbangan-pertimbangan kesadaran serta hidayah-hidayah lain-nya yang telah Tuhan anugrahkan. Entah itu melalui wahyu maupun ilham, baik dengan pelantaraan hal-hal yang bersifat tersurat maupun tersirat.

Dengan takdir dasar manusia sebagi makhluk yang Tuhan ciptakan dengan: “laa ta’lamuna syai’a”, memberikan instrumen motivasi tersendiri bagi akalnya (manusia) untuk senantiasa memaksimalkan daya-fikirnya guna menyelesaikan ketidaktahuan yang ia miliki menuju kepada pintu-pintu ketidaktahuan berikutnya, yang lebih tinggi maqqam-nya. Hingga pada puncaknya manusia dipaksa untuk mencapai pada titik-sadarnya: tentang realitas makhluk sebagai makhluk, dan Tuhan sebagai Tuhan dengan segala koneksitas dan preogritas-Nya.

Wallahu ‘alam ‘ala kuli hal...

Rabu, 21 Maret 2012

Harapan-Bangsa

,


Hari ini . . .
Engkau sibuk berteriak-teriak,
Merayakan uporiamu
Mengekspresikan uporia-demokrasi

Namun . . .
Berjuta rakyat Indonesia
Meraung-raung
Menanti harapan-bangsa-nya . . .

Turun kejalan-jalan
Menyuarakan kebenaran
Memberikan gagasan kehidupan
Menyelesaikan setiap persoalan!

***

Engkau adalah harapanku
Sampaikanlah pesanku padanya,
Jangan pernah menyia-nyiakan
Bumipertiwi!


#Selamat Menyongsong Satu-April,
_agen of change_
 

Gilad Gibran Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger Templates