Akhir-akhir ini, ada
fenomena menarik yang saya alami: terkait Skripsi.
Mungkin ini merupakan gejala
umum, yang dialami oleh seluruh mahasiswa pada semester-semester akhir, atau
hanya pengalaman pribadi. Entahlah! Untuk
hari ini, saya hanya bisa berspekulasi.
Di kampus, di kelas, di
sela-sela pembelajaran, di pembicaraan santai, bahkan di jejaring sosial atau
media lainnya, tema-tema terkait Skripsi begitu hangat. Bahkan tak jarang,
beberapa mahasiswa yang memposisikan tema Skripsi menjadi tema hot. Nuansa propaganda Skripsi seolah begitu dekat. Terlepas dari terpropaganda
atau tidak. Atau apakah mampu atau tidak menggapai maqam Skripsi tersebut. Atau mungkin: santai ajee daach.. (hehe).
Dalam paradigma kaum sosialis
dan atau madzhab anti neo-lib, maka
tema-tema Skripsi menjadi sesuatu hal yang biasa saja. Tidak ada reaksi yang
signifikan guna merespon propaganda tersebut.
Karena bagi penganut paradigma ini, percepatan selesainya Skripsi berarti
percepatan proses pembelajaran, dan juga otomatis percepatan terciptanya para
serjana-serjana baru. Implikasinya: sistem
pendidikan tidak ada ubahnya seperti sistem produksi. Sekolah/kampus sama
dengan mesin produksi (input-proses-output)
yang berorientsi pada permintaan publik.
Hmm, apakah anda sepakat dengan rasionalisasi “mereka”?
Well, cukup sulit untuk diterima memang, terkait rasionalisasi
tersebut. Namun, bagi mereka: ini
merupakan sebuah keyakinan, tidak hanya sebatas pengetahuan atau rasionalisasi.
Bahwa pendidikan tidak hanya tentang input-proses-output
yang berorientasi pada permintaan publik. Sehingga “proses” menjadi
terjebak dalam krangka formalistik. Dan ini berimplikasi langsung terhadap
membiasnya nuansa-nuansa “didik” dalam tem
“pendidikan”.
Ora mudeng, opo iki..
Yang pasti, sederhananya,
sistem itu mau-tidak-mau harus tetap ada. Tetapi, tidak terjebak dalam krangka
orientasi pasar (permintaan publik). Maksudnya, (1) proses pendidikan tidak
terjebak dalam krangka formalistik, (2) harus ada korelasi yang harmonis antara
proses pembelajaran, teori-teori yang dipelajari, dengan realitas masyarakat,
dengan permasalahan-permasalahan yang ada.
Makin ga faham kann..!! Yo wiss, kita skip dulu dech.. (hehe)
Pause
Pertama, berbicara tentang sosialis, bukan berarti saya adalah
sosialis (anti neo-lib), ini hanya sebuah refleksi. Kedua, supaya lebih berimbang, alur pada tulisan berikutnya dalam
konteks paradigma kaum liberalis (siapa
cepat, dia dapat: wisuda! (hehe)). Ketiga,
setelah itu, maka kita akan dapat dengan mudah menemukan positioning-diri. Keempat, kita tinggal mengambil sikap: fokus.
Play
Salam hangat, Gilad Gibran..
Mahasiswa semester akhir UIN Jakarta.
