Rabu, 24 Oktober 2012

SKRIPSI #1

,



Akhir-akhir ini, ada fenomena menarik yang saya alami: terkait Skripsi.
 


Mungkin ini merupakan gejala umum, yang dialami oleh seluruh mahasiswa pada semester-semester akhir, atau hanya pengalaman pribadi. Entahlah! Untuk hari ini, saya hanya bisa berspekulasi.

Di kampus, di kelas, di sela-sela pembelajaran, di pembicaraan santai, bahkan di jejaring sosial atau media lainnya, tema-tema terkait Skripsi begitu hangat. Bahkan tak jarang, beberapa mahasiswa yang memposisikan tema Skripsi menjadi tema hot. Nuansa propaganda Skripsi seolah begitu dekat. Terlepas dari terpropaganda atau tidak. Atau apakah mampu atau tidak menggapai maqam Skripsi tersebut. Atau mungkin: santai ajee daach.. (hehe).

Dalam paradigma kaum sosialis dan atau madzhab anti neo-lib, maka tema-tema Skripsi menjadi sesuatu hal yang biasa saja. Tidak ada reaksi yang signifikan guna merespon propaganda tersebut. Karena bagi penganut paradigma ini, percepatan selesainya Skripsi berarti percepatan proses pembelajaran, dan juga otomatis percepatan terciptanya para serjana-serjana baru. Implikasinya: sistem pendidikan tidak ada ubahnya seperti sistem produksi. Sekolah/kampus sama dengan mesin produksi (input-proses-output) yang berorientsi pada permintaan publik.

Hmm, apakah anda sepakat dengan rasionalisasi “mereka”?

Well, cukup sulit untuk diterima memang, terkait rasionalisasi tersebut. Namun, bagi mereka: ini merupakan sebuah keyakinan, tidak hanya sebatas pengetahuan atau rasionalisasi. Bahwa pendidikan tidak hanya tentang input-proses-output yang berorientasi pada permintaan publik. Sehingga “proses” menjadi terjebak dalam krangka formalistik. Dan ini berimplikasi langsung terhadap membiasnya nuansa-nuansa “didik” dalam tem “pendidikan”.

Ora mudeng, opo iki..

Yang pasti, sederhananya, sistem itu mau-tidak-mau harus tetap ada. Tetapi, tidak terjebak dalam krangka orientasi pasar (permintaan publik). Maksudnya, (1) proses pendidikan tidak terjebak dalam krangka formalistik, (2) harus ada korelasi yang harmonis antara proses pembelajaran, teori-teori yang dipelajari, dengan realitas masyarakat, dengan permasalahan-permasalahan yang ada.

Makin ga faham kann..!! Yo wiss, kita skip dulu dech.. (hehe)

Pause

Pertama, berbicara tentang sosialis, bukan berarti saya adalah sosialis (anti neo-lib), ini hanya sebuah refleksi. Kedua, supaya lebih berimbang, alur pada tulisan berikutnya dalam konteks paradigma kaum liberalis (siapa cepat, dia dapat: wisuda! (hehe)). Ketiga, setelah itu, maka kita akan dapat dengan mudah menemukan positioning-diri. Keempat, kita tinggal mengambil sikap: fokus.

Play

Salam hangat, Gilad Gibran..
Mahasiswa semester akhir UIN Jakarta.

0 komentar to “SKRIPSI #1”

Posting Komentar

 

Gilad Gibran Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger Templates