—1,
Sore itu sang awan cukup legowo untuk
sekedar “mempersilakan” sinar mentari sampai ke lapisan terluar pelanet Bumi.
Untuk sekedar menjalankan sunatullah-Nya. Untuk sekedar menyapa setiap benda yang
tersinari olehnya. Dan di beranda Asrama Putra IMM Ciputat (yang terletak di
depan gedung UIN Jakarta) saya pun sedang berkontemplasi dengan kang Fidi
Baiq lewat buku serialnya, Drunken Mama. Setelah sebelumnya saya melahap
habis buku Drunken Moster dan Drunken Marmut. Namun, hingga
tulisan ini saya buat, buku pelengkap Drunken Molen (buku kedua dari
empat seri lengkap) belum saya mendapatinya.
Huruf demi huruf, kata demi
kata, kalimat demi kalimat, lembar demi lembar hingga tak terasa sudak hampir
setengah buku Drunken Mama yang saya baca. Namun tiba-tiba saya berhenti
membaca sejenak setelah saya melihat seorang bapak-bapak yang berbadan cukup
besar, tinggi, tegap dengan berpenampilan rapi, berkemeja batik, celana jeans
dan sepatu pantopel. Saya panggil bapak dalam tulisan ini karena
perkiraan saya umurnya sekitar 50 tahun (tak jauh berbeda dengan umur ayah saya di
rumah). Bapak itu pun langsung bertanya kepada saya.
“maaf, acara di aula
Fastabiqul Khairat sudah di mulai!!!?”
“emmm... sebentar pak!!” jawab
saya.
Kemudian segera saya melihat
ke dalam aula yang berada tepat disamping kanan asrama. Tapi saya tidak
mendapatkan seorang pun disana. Hanya terdapat kursi-kursi yang sudah dirapikan
membentuk setengah lingkaran yang menyesuaikan dengan bentuk ruangan (persegi
panjang 5x15). Banner/sepanduk terpasang rapi di tembok serta hiasan tulisan
besar, ucapan selamat yang dikirim oleh Hj. Airin, SH, MH, walikota Tangsel
atas terselenggaranya Musycab XXXII PC IMM Ciputat. Dan dikarenakan saya tidak
mendapatkan seorangpun disana, maka setelah itu pun saya segera kembali
menghadap bapak tadi, yang menunggu di depan asrama.
Setelah saya berdiri dihadapan
beliau, bapak itu pun langsung bertanya untuk yang kedua kalinya (setelah tadi
yang pertama).
“asrama di atas, lantai dua
sudah di isi?” tanyanya.
“...oow, sudah pak, sudah
diisi!!” jawab saya.
Wach, sepertinya
saya mengenal bapak ini!!! Naluri saya tidak bisa menolak kalau bapak ini
adalah kanda (kanda adalah panggilan untuk alumni/senior organisasi—IMM),
tepatnya kanda Safari ANS yang akan mengisi Stadium General Musycab di aula
Fascho (akronim dari Fastabiqul Khairat). Sebab 60 menit sebelumnya, ka Nuy
(ketua PC IMM Ciputat) mengirimkan SMS via handphone (bukan via JNE, Tiki atau
pos kilat).
Asslm..
HADIRI DAN SUKSESKAN MUSYAWARAH
CABANG XXXII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Ciputat
Kamis, 29 Desember 2011 pukul 15.00
sd selesai @di Aula Fastabiqul Khairat. Terimakasih.
Di awali dengan stadium general
pembicara bpk Safari ANS.
Mohon disebarkan ke kader2 yang
lain.
Ternyata benar adanya. Beliau
adalah bapak Safari ANS (walau pun saya belum sempat menanyakan
nama beliau), sebab setelah itu (yang saya anggap) pak Safari menanyakan
tetang Immawan (“culture” panggilan untuk kader laki-laki IMM) Fahmi
(Syahirul ‘Alim). Ketua umum PC IMM Ciputat.
“de Fahminya ada?”
“ka Fahmi lagi di kantor Cabang
pak, di komplek dosen...” behenti beberapa detik, kemudian saya melanjutkan
jawaban saya tadi..
“sebentar pak ya, saya hubungi
dulu ka Fahminya.”
“O.. iya, ya!!”
Dikarenakan HP saya simpan diatas-kasur-tipis-di-salah-satu-ruangan-asrama-putra-lantai-dua, maka saya pun
mohon pamit untuk mengmbil HP tersebut terlebih dahulu!
“mari pak, saya pamit ke atas,
mau mengambil HP-nya dulu!!!”
“Oo ya, mari de...”
Setelah itu saya lekas naik
tangga (satu demi satu) menuju lantai dua, menuju ruangan yang dituju. Kemudian
mengambil HP dan segera menghubungi immawan Fahmi.
Tuuuut.. tuuuuut.. tuuuutt..
“ya, zi!! hallo!!!” sahut
immawan Fahmi setelah sebelumnya mendengar HP-nya berbunyi dan (mungkin)
bergetar sebagai pertanda bahwa ada yang memanggil (calling), dan
tercantum nama saya di HP-nya yang meng-calling.
“ieu ang aya pembicara SG di tos
sumping, tadi ka Asrama!” Kebetulan, Fahmi itu sedaerah dengan saya,
orang Tasik. Jadi bahasa yang saya gunakan, bahasa Sunda. Yang artinya: “ini ka
ada pembicara SG udah datang. Tadi ke Asrama!”
“oh, ya zi, saya nuju siap-siap
bentar lagi ke sana” Jawab Fahmi. Nuju itu artinya “lagi”.
“oke kang di tunggu”
“ya sip”
Klik
Setelah saya menghubungi
immawan Fahmi, lalu saya kembali ke beranda lantai satu untuk menemui pak
Safari untuk mengabarkan bahwa sebentar lagi Immawan Fahmi ke sini. Namun
beliau sudah tidak lagi di depan asrama. Entah kemana!
Dikarenakan pak Safari tidak
ada, saya pun kembali melanjutkan membaca buku Drunken Mama yang tadi
sempat terpotong. Namun tak lama setelah itu, pak Safari pun berjalan dari arah
kiri asrama. Sambil membawa buku Mizan entah apa judulnya, buku tersebut masih
pakai plastik (baru beli di bazar buku-buku Mizan yang berada tepat di samping
kiri asrama). Beliau berjalan tepat di depan saya yang sedang membaca tadi, dan
segera saya menengok beliau. karena saya melihat beliau. Dan entah siapa yang pertama
kali melemparkan senyuman diantara kami, namun yang saya sadari pada saat itu,
kami saling melemparkan senyuman.
—2,
Dengan kaos oblong bertuliskan BANDUNG
UNDERGROUND yang dari kemarin saya pakai, di tambah almet (Jaket
“Merah”) kebanggaan “Ikatan” yang saya kenakan dengan rapi. Celana bahan warna
hitam. Bersepatu. Rambut telah saya sisir dengan serapi mungkin (walau pun
tetap saja tak kunjung rapi). Dengan tas Netbook melintang (diagonal) di
badan, tapi saya tidak membawa netbook didalamnya, melainkan dua buah
buku; Drunken Mama Pidi Baiq (yang saya ceritakan di awal)
dan buku Yahudi Menggenggam Dunia karyanya Willian G. Carr (yang
belum saya ceritakan di awal tulisan ini).
Setelah itu, saya pun segera
menuju aula Fascho, memasukinya (masuk-ke-dalam-aula-melalui-pintu-masuknya).
Mencari posisi tempat duduk yang masih kosong dan strategis sebagai audiens.
Ya, di sana! Tempat duduku yang tepat (setidaknya menurut saya). Karena
saya memilih tempat duduk (kursi) kosong yang berada di barisan ketiga (barisan
paling belakang), tepat dihadapan saya (sejajar) dengan Banner/sepanduk yang
berukuran 3x1 (meter) yang terpasang rapi di depan, dan di depan Banner itu terdapat dua meja yang seolah satu meja panjang,
karena telah ditutuoi dan atau dihiasi oleh kain (berukuran panjang nan lebar) berwarna dasar putih dengan sedikit tambahan
warna biru dipinggir-pinggirnya. Saya berkeyakinan bahwa, beberapa menit lagi meja
tersebut akan digunakan oleh moderator dan pembicara Studium General Musycab
XXXII PC IMM Ciputat 2010-2011 ini. Anda tahu? kenapa saya tahu? kenapa saya
berkeyakinan? Hal itu tak usah saya jelaskan disini karena itu tidak lah
terlalu penting. Setidaknya untuk saya dan juga untuk anda!
Setelah 15 menit saya duduk di
kursi yang “beruntung”, beruntung karena telah saya pilih untuk saya duduki.
Sebab kalau tidak saya duduki, (mungkin) penciptaan kursi tersebut dan
keberadaannya pada saat itu akan terasa sia-sia (walau untuk saat itu). Oleh
karena itu, wajar dong kalau saya bilang “beruntung” terhadap kursi yang
saya duduki itu.
Pause
Ternyata, ada dua kebenaran
yang terbukti pada saat itu, pertama, benar bahwa bapak tersebut adalah
kanda Safari ANS (pendiri sekaligus pengurus aktif International Fund For
Indonesia Development [IFID] di Hongkong) setelah saya melihat selintas
biografi beliau di dua lembar kertas yang dibagikan oleh panitia kepada seluruh
audiens yang hadir pada saat itu. Kedua, benar bahwa moderator
dan pembicara SG berada tepat di depan saya berada di dua meja yang seolah satu
meja panjang karena telah ditutuoi dan atau dihiasi oleh kain (berukuran panjang nan lebar) berwarna dasar putih dengan sedikit tambahan
warna biru dipinggir-pinggirnya. (Oh my God, please dech...... penting ga
seeeehh..!!!).
—3,
Dengan penuh rasa semangat yang menggebu-gebu,
Sang Moderator, Immawati Amalia Nasuha (ketua PC IMM Ciputat) memulai
tugasnya dengan membacakan biografi (lebih tepatnya pointer-pointer
pengalaman hidup) kanda Safari ANS di mulai dari beliau dilahirkan di Bangka
Belitung, sampai tahun 2007 beliau mendirikan organisasi Internasional yang konsen
terhadap pengumpulan dana-dana Indonesia yang berada di luar negeri guna
mewujudkan kesejahteraan rakyat Indonesia, yakni International Fund For
Indonesia Development (IFID) di Hongkong.
Di samping itu, beliau juga
dikenal sebagai wartawan senior (dalam sekala nasional) yang mempunyai daya
analisis yang cukup tinggi terhadap fenomena-fenomena sosial, politik dan
ekonomi yang terjadi di Indonesia. Oleh karena itu, sumbangsih pemikiran beliau
sering dijadikan rujukan oleh tokoh-tokoh nasional dalam mengambil kebijakan
politik maupun pemerintahan. Sehingga tak jarang beliau di undang ke Cikeas
oleh pak SBY (orang nomor wahid di Indonesia).
Setelah moderator panjang
lebar memaparkan pointer-pointer pengalaman hidup kanda Safari ANS kepada
audiens, kemudian waktu dan kesempatan pun diberikan sepenuhnya kepada
kakanda guna mengupas secara mendalam mengenai tema yang diusung oleh panitia
pada kegiatan SG tersebut. Yakni “Reorientasi Kepemimpinan; Sebagai
Sumbangsih dari Ciputat untuk Bangsa”.
—4,
“Sekitar 25 sampai 30 tahun lebih, baru kali
ini saya berada kembali di Aula Fastabiqul Khairat! Ini merupakan kehormatan
tersendiri bagi saya di undang oleh IMM, oleh de Fahmi untuk mengisi
acara Studium General pada kesempatan sore ini.”
“ada yang ingin saya ceritakan
mengenai IFID, organisasi yang saya dirikan.”
Jadi, (menurut beliau) uang
negara Indonesia yang berada di luar negeri itu sangat besar jumlahnya. Di
Hongkong saja, total uang indonesia itu sebesar 500 Triliun rupiah. Dan
kalau di bawa ke Indonesia, ini merupakan dana yang sangat besar untuk
membangun Indonesia, mensejahterakan rakyat Indonesia. Dan saya sudah
menawarkan kepada mereka untuk membawa uang tersebut ke Indonesia, dan mereka
“mau”. Namun, terkendala oleh sisten keuangan kita. Dan sampai saat ini, uang itu masih berada di sana. Di Hongkong.
“tapi uang tersebut tidak bisa
kita bawa ke Indonesia” keluh beliau.
Bukan “tidak mau” atau tidak
ada niatan baik untuk membawa uang tersebut ke Indonesia, tapi orang Indonesia
yang berada di Hongkong itu tidak mau uang tersebut berkurang ketika di bawa
pulang ke Indonesia. Karena mereka sadar akan sistem keuangan yang digunakan
oleh pemerintah Indonesia. Apalagi, dalam benak “mereka” sudah tertanam sangat
kuat tentang keserakahan para “teknokrat” bangsa Indonesia itu sudah sangat
akut.
Saya sudah melobi pak SBY dan
menteri keuangan tentang hal ini. Namun, usaha saya sia-sia karena mereka
bilang bahwa, "mustahil membawa uang sebanyak itu ke Indonesia tanpa dikurangi
(pajak) sedikit pun.”
“Jadi uang tersebut tidak bisa
saya bawa ke Indonesia. Oleh karena itu, saya mendirikan organisasi IFID guna
menampung dana-dana tersebut”. Paparan pak Safari. “dan setiap sebulan sekali,
selama seminggu saya harus berangkat ke Hongkong memenuhi kewajiban (tugas)”
lanjutnya.
—5,
Pesan Kanda Safari ANS untuk generasi muda
Muhammadiyah...
“Sebelum saya membahas materi
tentang Reorientasi Kepemimpinan, saya ingin berpesan kepada adek-adek
selaku kader IMM, kader muda Muhammadiyah. Supaya lebih mendalami dunia
pembaruan pemikiran, apa pun profesi yang adek-adek nanti akan jalani
kedepannya. Karena setelah saya telaah selaku wartawan senior di Indonesia,
bahwa di dalam tubuh Muhammadiyah tokoh-tokoh pemikir itu masih sedikit.
Sehingga pembaruan pemikiran di tubuh Muhammadiyah kurang begitu progress. Oleh
karena itu, post-post tersebut patut diisi oleh generasi Muda
Muhammadiyah (IMM) Immawan dan immawati sekalian”.
—6,
30 menit berlalu...
Kanda safari ANS pun mensudahi
pembahasan dari materi makalah yang sudah beliau buat sebelumnya, makalah yang bertemakan
tentang Reorientasi Kepemimpinan. Dengan judul Demokratisasi dan
Desakralisasi.
“saya kira, karena porsi saya
disini sebagai pengantar, maka materi tentang Reorientasi Kepemimpinan dicukupkan
sekian. Selanjutnya, barang kali ada yang merasa belum “puas” mari kita
perdalam melalui sesi diskusi atau tanya-jawab!” ujar pak Safari
sambil duduk menyandar di kursi sembari istirahat sejenak.
pause
Berikut ini, pointer-pointer
materi yang saya bisa tangkap (melalui IQ atau pun ingatan yang saya
miliki) tanpa saya mencatatnya dalam sebuah catatan kecil. Karena (mungkin)
akan sedikit percuma saya mencatatnya dalam sebuah catatan kecil, disebabkan
kanda Safari ANS sudah mempersiapkan makalah yang diserahkan kepada panitia
untuk digandakan (photocopy) guna diberikan kepada seluruh audiens sebelum
SG itu di mulai.
Pertama,
Pasca amandemen UUD 1945 pada
tahun 1999-2002, secara otomatis menyebabkan perubahan yang menyeluruh terhadap
peraturan perundang-undangan yang berada dibawahnya (UU, PERPU, PERPRES, PP,
PERDA). Dan diperkirakan, membutuhkan waktu 20 tahun untuk menjabarkan ayat
demi ayat, pasal demi pasal UUD 1945 dalam peraturan perundang-undangan yang
berada dibawahnya sebagai aturan pelaksana (peraturan organik). Namun, nyatanya DPR hanya
mampu menghasilkan kurang dari 10% dari total kebutuhan UU pada periode ini
(terlalu banyak loby-loby).
Kedua,
Otonomi Daerah (OTDA) sebagai
wujud dari demokratisasi di Indonesia, nyatanya bukan menjadi solusi yang cukup
signifikan bagi perbaikan bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik lagi.
Sebagai contoh, Bupati dan atau Walikota bertanggung jawab kepada DPRD tingkat
Kabupaten dan atau Kota. Gubernur bertanggung jawab kepada DPRD tingkat Provinsi.
Dan presiden bertanggung jawab kepada DPR RI. Dalam hal ini, secara institusi
dan normatif, walaupun presiden sebagai kepala negara dan mempunyai kedudukan
tertinggi di Indonesia, namun tidak bisa memberikan intruksi ataupun koreksi
terhadap kinerja pemerintah daerah baik yang berada di tingkat provinsi maupun
daerah. Karena memang, presiden tidak mempunyai kewenangan akan hal itu.
Sehingga, di Indonesia ini sangat sulit (sekali) terjadinya kesatuan "visi"
antara pemerintah pusat sampai pemerintah daerah. Oleh karena itu, menurut
pakar Hukum Tata Negara, sistem Otonomi Daerah dengan sistem Negara federal itu
sangat-sangat berbeda “tipis”.
Ketiga,
Pemerintah (pusat sampai
daerah) tidak mempunyai perencanaan yang baik dalam menjalankan roda
pemerintahannya, sehingga tak jarang menyebabkan tidak terserapnya APBN dan tau
APBD secara maksimal untuk kesejahteraan rakyat.
Keempat,
APBN dan atau APBD pemerintah
Indonesia, 60-70 persen habis disalurkan untuk membiayai pengeluaran rutin
pemerintah (menggaji Pergawai Negeri, PNS, biaya oprasional pejabat pemerintah
dan lain sebagainya). Dan sisanya (30-40 persen) digunakan untuk keperluan
pembangunan serta kebutuhan rakyat. Oleh karenanya, rakyat Indonesia harap-maklum (jangan “protes”) kalau jalan-jalan (selain jalur provinsi) di daerah
anda berlubang, atau aspalnya berkualitas tingkat rendah, dengan alasan kas
pemerintah tidak mencukupi untuk perbaikan sarana-sarana umum bagi masyarakat.
Kelima,
Indonesia memiliki nilai
“biru” dalam hal pertumbuhan ekonomi, hingga mencapai 5% per tahun. Ini
disebabkan karena BUMN-BUMN yang ada di Indonesia itu (mayoritas) dikuasai
penuh oleh para pemilik modal (konglomerat) yang mempu bersaing serta
meningkatkan perekonomian bangsa Indonesia. Sehingga ditengah krisis global
ini, bangsa Indonesia masih tetap bisa bertahan. Bahkan meunjukan pertumbuhan
yang positif. Namun disisi lain, karena pertumbuhan ekonomi ini masih dirasakan
oleh para konglomerat, belum menyentuh rakyat Indonesia yang berada
dilapisan bawah. Oleh karena itu, Indonesia dalam hal pertumbuhan ekonomi
menujukan respon yang positif, namun nilai “merah” dalam hal pemerataan ekonomi
(bagi seluruh rakyat Indonesia).
Keenam,
“dari awal kami baru menyimak
tentang Disorientasi Kepemimpinan bersekala Nasional, namun belum begitu
jelas tentang Reorientasi Kepemimpinannya. Oleh karena itu, saya ingin
bertanya tentang Reorientasi Kepemimpinan bagi bangsa Indonesia!? Apakah
dengan teorinya pak Amien Rais dengan Negara federalnya? Atau teorinya
temen-temen komunis (Musso, Aidit) dengan Revolusinya?” tanya saya kepada pak
Safari ANS setelah sebelumnya mengangat tangan kanan keatas sebagai tanda saya
ingin bertanya.
“Reorientasi Kepemimpinan
bagi bangsa Indonesia itu adalah bagai mana meminimalisir perbedaan-perbedaan
yang ada di tubuh NU dan Muhammadiyah sebagai Ormas terbesar di Indonesia.
Karena, ketika NU dan Muhammadiyah sudah bersatu padu untuk membangun
Indonesia, maka sistem pemerintah apa pun yang digunakan oleh Indonesia
kedepannya, pasti akan baik. Hari ini, Indonesia harus bisa menemukan sosok
pemimpin yang bisa menjadi pemersatu antara NU dan Muhammadiyah guna kemajuan
bangsa. Serta adek-adek selaku kader muda Muhammadiyah harus bisa
mengembalikan Muhammadiyah kepada hittah-nya sebagai Organisasi
Masyarakat (Ormas), Gerakan Pembaruan Islam jangan sampai terjebak dalam
jeratan politik praktis, yang menobatkan diri sebagi kaum politik puritan”.
Beliau menjawab dengan sederhana namun penuh makna dan tentunya cukup sulit,
bahkan (sangat) sulit untuk direalisasikan dalam dunia nyata. Tapi, sejatinya: tak ada yang tidak mungkin!
—7,
Adzan Maghrib berkumandang, terdengar jelas
suara adzan tersebut, karena berasal dari Masjid Fathullah UIN Jakarta yang berjarak
(sekitar) 40 meter dari temapat kami mengadakan Studium General (Aula
Fastabiqul Khairat). Sehingga kanda Safari ANS pun sesegera mungkin mensudahi
pembicaraannya.
“Mohon maaf jikalau terdapat
kekurangan dalam penyampaian materi dalam Studium General kali ini.
Karena memang, saya baru dihubungi oleh de Fahmi itu tadi pagi dan waktu
menyiapkan makalahnya hanya sekitar dua jam. Maka (dirasa) wajar kalau terdapat
kekurangan dalam makalah yang saya buat”.[]