Senin, 02 Januari 2012

Little Note

,

—1,
Sore itu sang awan cukup legowo untuk sekedar “mempersilakan” sinar mentari sampai ke lapisan terluar pelanet Bumi. Untuk sekedar menjalankan sunatullah-Nya.  Untuk sekedar menyapa setiap benda yang tersinari olehnya. Dan di beranda Asrama Putra IMM Ciputat (yang terletak di depan gedung UIN Jakarta) saya pun sedang berkontemplasi dengan kang Fidi Baiq lewat buku serialnya, Drunken Mama. Setelah sebelumnya saya melahap habis buku Drunken Moster dan Drunken Marmut. Namun, hingga tulisan ini saya buat, buku pelengkap Drunken Molen (buku kedua dari empat seri lengkap) belum saya mendapatinya.
Huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat, lembar demi lembar hingga tak terasa sudak hampir setengah buku Drunken Mama yang saya baca. Namun tiba-tiba saya berhenti membaca sejenak setelah saya melihat seorang bapak-bapak yang berbadan cukup besar, tinggi, tegap dengan berpenampilan rapi, berkemeja batik, celana jeans dan sepatu pantopel. Saya panggil bapak dalam tulisan ini karena perkiraan saya umurnya sekitar 50 tahun (tak jauh berbeda dengan umur ayah saya di rumah). Bapak itu pun langsung bertanya kepada saya.
“maaf, acara di aula Fastabiqul Khairat sudah di mulai!!!?”
“emmm... sebentar pak!!” jawab saya.
Kemudian segera saya melihat ke dalam aula yang berada tepat disamping kanan asrama. Tapi saya tidak mendapatkan seorang pun disana. Hanya terdapat kursi-kursi yang sudah dirapikan membentuk setengah lingkaran yang menyesuaikan dengan bentuk ruangan (persegi panjang 5x15). Banner/sepanduk terpasang rapi di tembok serta hiasan tulisan besar, ucapan selamat yang dikirim oleh Hj. Airin, SH, MH, walikota Tangsel atas terselenggaranya Musycab XXXII PC IMM Ciputat. Dan dikarenakan saya tidak mendapatkan seorangpun disana, maka setelah itu pun saya segera kembali menghadap bapak tadi, yang menunggu di depan asrama.
Setelah saya berdiri dihadapan beliau, bapak itu pun langsung bertanya untuk yang kedua kalinya (setelah tadi yang pertama).
“asrama di atas, lantai dua sudah di isi?” tanyanya.
“...oow, sudah pak, sudah diisi!!” jawab saya.
Wach, sepertinya saya mengenal bapak ini!!! Naluri saya tidak bisa menolak kalau bapak ini adalah kanda (kanda adalah panggilan untuk alumni/senior organisasi—IMM), tepatnya kanda Safari ANS yang akan mengisi Stadium General Musycab di aula Fascho (akronim dari Fastabiqul Khairat). Sebab 60 menit sebelumnya, ka Nuy (ketua PC IMM Ciputat) mengirimkan SMS via handphone (bukan via JNE, Tiki atau pos kilat).
Asslm..
HADIRI DAN SUKSESKAN MUSYAWARAH CABANG XXXII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Ciputat
Kamis, 29 Desember 2011 pukul 15.00 sd selesai @di Aula Fastabiqul Khairat. Terimakasih.
Di awali dengan stadium general pembicara bpk Safari ANS.
Mohon disebarkan ke kader2 yang lain.
Ternyata benar adanya. Beliau adalah bapak Safari ANS (walau pun saya belum sempat menanyakan nama beliau), sebab setelah itu (yang saya anggap) pak Safari menanyakan tetang Immawan (“culture” panggilan untuk kader laki-laki IMM) Fahmi (Syahirul ‘Alim). Ketua umum PC IMM Ciputat.
de Fahminya ada?”
“ka Fahmi lagi di kantor Cabang pak, di komplek dosen...” behenti beberapa detik, kemudian saya melanjutkan jawaban saya tadi..
“sebentar pak ya, saya hubungi dulu ka Fahminya.”
“O.. iya, ya!!”
Dikarenakan HP saya simpan diatas-kasur-tipis-di-salah-satu-ruangan-asrama-putra-lantai-dua, maka saya pun mohon pamit untuk mengmbil HP tersebut terlebih dahulu!
“mari pak, saya pamit ke atas, mau mengambil HP-nya dulu!!!”
“Oo ya, mari de...
Setelah itu saya lekas naik tangga (satu demi satu) menuju lantai dua, menuju ruangan yang dituju. Kemudian mengambil HP dan segera menghubungi immawan Fahmi.
Tuuuut.. tuuuuut.. tuuuutt..
“ya, zi!! hallo!!!” sahut immawan Fahmi setelah sebelumnya mendengar HP-nya berbunyi dan (mungkin) bergetar sebagai pertanda bahwa ada yang memanggil (calling), dan tercantum nama saya di HP-nya yang meng-calling.
“ieu ang aya pembicara SG di tos sumping, tadi ka Asrama!” Kebetulan, Fahmi itu sedaerah dengan saya, orang Tasik. Jadi bahasa yang saya gunakan, bahasa Sunda. Yang artinya: “ini ka ada pembicara SG udah datang. Tadi ke Asrama!”
“oh, ya zi, saya nuju siap-siap bentar lagi ke sana” Jawab Fahmi. Nuju itu artinya “lagi”.
“oke kang di tunggu”
“ya sip”
Klik

Setelah saya menghubungi immawan Fahmi, lalu saya kembali ke beranda lantai satu untuk menemui pak Safari untuk mengabarkan bahwa sebentar lagi Immawan Fahmi ke sini. Namun beliau sudah tidak lagi di depan asrama. Entah kemana!
Dikarenakan pak Safari tidak ada, saya pun kembali melanjutkan membaca buku Drunken Mama yang tadi sempat terpotong. Namun tak lama setelah itu, pak Safari pun berjalan dari arah kiri asrama. Sambil membawa buku Mizan entah apa judulnya, buku tersebut masih pakai plastik (baru beli di bazar buku-buku Mizan yang berada tepat di samping kiri asrama). Beliau berjalan tepat di depan saya yang sedang membaca tadi, dan segera saya menengok beliau. karena saya melihat beliau. Dan entah siapa yang pertama kali melemparkan senyuman diantara kami, namun yang saya sadari pada saat itu, kami saling melemparkan senyuman.

—2,
Dengan kaos oblong bertuliskan BANDUNG UNDERGROUND yang dari kemarin saya pakai, di tambah almet (Jaket “Merah”) kebanggaan “Ikatan” yang saya kenakan dengan rapi. Celana bahan warna hitam. Bersepatu. Rambut telah saya sisir dengan serapi mungkin (walau pun tetap saja tak kunjung rapi). Dengan tas Netbook melintang (diagonal) di badan, tapi saya tidak membawa netbook didalamnya, melainkan dua buah buku; Drunken Mama Pidi Baiq (yang saya ceritakan di awal) dan buku Yahudi Menggenggam Dunia karyanya Willian G. Carr (yang belum saya ceritakan di awal tulisan ini).
Setelah itu, saya pun segera menuju aula Fascho, memasukinya (masuk-ke-dalam-aula-melalui-pintu-masuknya). Mencari posisi tempat duduk yang masih kosong dan strategis sebagai audiens. Ya, di sana! Tempat duduku yang tepat (setidaknya menurut saya). Karena saya memilih tempat duduk (kursi) kosong yang berada di barisan ketiga (barisan paling belakang), tepat dihadapan saya (sejajar) dengan Banner/sepanduk yang berukuran 3x1 (meter) yang terpasang rapi di depan, dan di depan Banner itu terdapat dua meja yang seolah satu meja panjang, karena telah ditutuoi dan atau dihiasi oleh kain (berukuran panjang nan lebar) berwarna dasar putih dengan sedikit tambahan warna biru dipinggir-pinggirnya. Saya berkeyakinan bahwa, beberapa menit lagi meja tersebut akan digunakan oleh moderator dan pembicara Studium General Musycab XXXII PC IMM Ciputat 2010-2011 ini. Anda tahu? kenapa saya tahu? kenapa saya berkeyakinan? Hal itu tak usah saya jelaskan disini karena itu tidak lah terlalu penting. Setidaknya untuk saya dan juga untuk anda!
Setelah 15 menit saya duduk di kursi yang “beruntung”, beruntung karena telah saya pilih untuk saya duduki. Sebab kalau tidak saya duduki, (mungkin) penciptaan kursi tersebut dan keberadaannya pada saat itu akan terasa sia-sia (walau untuk saat itu). Oleh karena itu, wajar dong kalau saya bilang “beruntung” terhadap kursi yang saya duduki itu.
Pause

Ternyata, ada dua kebenaran yang terbukti pada saat itu, pertama, benar bahwa bapak tersebut adalah kanda Safari ANS (pendiri sekaligus pengurus aktif International Fund For Indonesia Development [IFID] di Hongkong) setelah saya melihat selintas biografi beliau di dua lembar kertas yang dibagikan oleh panitia kepada seluruh audiens yang hadir pada saat itu. Kedua, benar bahwa moderator dan pembicara SG berada tepat di depan saya berada di dua meja yang seolah satu meja panjang karena telah ditutuoi dan atau dihiasi oleh kain (berukuran panjang nan lebar) berwarna dasar putih dengan sedikit tambahan warna biru dipinggir-pinggirnya. (Oh my God, please dech...... penting ga seeeehh..!!!).

—3,
Dengan penuh rasa semangat yang menggebu-gebu, Sang Moderator, Immawati Amalia Nasuha (ketua PC IMM Ciputat) memulai tugasnya dengan membacakan biografi (lebih tepatnya pointer-pointer pengalaman hidup) kanda Safari ANS di mulai dari beliau dilahirkan di Bangka Belitung, sampai tahun 2007 beliau mendirikan organisasi Internasional yang konsen terhadap pengumpulan dana-dana Indonesia yang berada di luar negeri guna mewujudkan kesejahteraan rakyat Indonesia, yakni International Fund For Indonesia Development (IFID) di Hongkong.
Di samping itu, beliau juga dikenal sebagai wartawan senior (dalam sekala nasional) yang mempunyai daya analisis yang cukup tinggi terhadap fenomena-fenomena sosial, politik dan ekonomi yang terjadi di Indonesia. Oleh karena itu, sumbangsih pemikiran beliau sering dijadikan rujukan oleh tokoh-tokoh nasional dalam mengambil kebijakan politik maupun pemerintahan. Sehingga tak jarang beliau di undang ke Cikeas oleh pak SBY (orang nomor wahid di Indonesia).
Setelah moderator panjang lebar memaparkan pointer-pointer pengalaman hidup kanda Safari ANS kepada audiens, kemudian waktu dan kesempatan pun diberikan sepenuhnya kepada kakanda guna mengupas secara mendalam mengenai tema yang diusung oleh panitia pada kegiatan SG tersebut. Yakni “Reorientasi Kepemimpinan; Sebagai Sumbangsih dari Ciputat untuk Bangsa”.

—4,
“Sekitar 25 sampai 30 tahun lebih, baru kali ini saya berada kembali di Aula Fastabiqul Khairat! Ini merupakan kehormatan tersendiri bagi saya di undang oleh IMM, oleh de Fahmi untuk mengisi acara Studium General pada kesempatan sore ini.”
“ada yang ingin saya ceritakan mengenai IFID, organisasi yang saya dirikan.”
Jadi, (menurut beliau) uang negara Indonesia yang berada di luar negeri itu sangat besar jumlahnya. Di Hongkong saja, total uang indonesia itu sebesar 500 Triliun rupiah. Dan kalau di bawa ke Indonesia, ini merupakan dana yang sangat besar untuk membangun Indonesia, mensejahterakan rakyat Indonesia. Dan saya sudah menawarkan kepada mereka untuk membawa uang tersebut ke Indonesia, dan mereka “mau”. Namun, terkendala oleh sisten keuangan kita. Dan sampai saat ini, uang itu masih berada di sana. Di Hongkong.
“tapi uang tersebut tidak bisa kita bawa ke Indonesia” keluh beliau.
Bukan “tidak mau” atau tidak ada niatan baik untuk membawa uang tersebut ke Indonesia, tapi orang Indonesia yang berada di Hongkong itu tidak mau uang tersebut berkurang ketika di bawa pulang ke Indonesia. Karena mereka sadar akan sistem keuangan yang digunakan oleh pemerintah Indonesia. Apalagi, dalam benak “mereka” sudah tertanam sangat kuat tentang keserakahan para “teknokrat” bangsa Indonesia itu sudah sangat akut.
Saya sudah melobi pak SBY dan menteri keuangan tentang hal ini. Namun, usaha saya sia-sia karena mereka bilang bahwa, "mustahil membawa uang sebanyak itu ke Indonesia tanpa dikurangi (pajak) sedikit pun.
“Jadi uang tersebut tidak bisa saya bawa ke Indonesia. Oleh karena itu, saya mendirikan organisasi IFID guna menampung dana-dana tersebut”. Paparan pak Safari. “dan setiap sebulan sekali, selama seminggu saya harus berangkat ke Hongkong memenuhi kewajiban (tugas)” lanjutnya.

—5,
Pesan Kanda Safari ANS untuk generasi muda Muhammadiyah...
“Sebelum saya membahas materi tentang Reorientasi Kepemimpinan, saya ingin berpesan kepada adek-adek selaku kader IMM, kader muda Muhammadiyah. Supaya lebih mendalami dunia pembaruan pemikiran, apa pun profesi yang adek-adek nanti akan jalani kedepannya. Karena setelah saya telaah selaku wartawan senior di Indonesia, bahwa di dalam tubuh Muhammadiyah tokoh-tokoh pemikir itu masih sedikit. Sehingga pembaruan pemikiran di tubuh Muhammadiyah kurang begitu progress. Oleh karena itu, post-post tersebut patut diisi oleh generasi Muda Muhammadiyah (IMM) Immawan dan immawati sekalian”.

—6,
30 menit berlalu...
Kanda safari ANS pun mensudahi pembahasan dari materi makalah yang sudah beliau buat sebelumnya, makalah yang bertemakan tentang Reorientasi Kepemimpinan. Dengan judul Demokratisasi dan Desakralisasi.
“saya kira, karena porsi saya disini sebagai pengantar, maka materi tentang Reorientasi Kepemimpinan dicukupkan sekian. Selanjutnya, barang kali ada yang merasa belum “puas” mari kita perdalam melalui sesi diskusi atau tanya-jawab!” ujar pak Safari sambil duduk menyandar di kursi sembari istirahat sejenak.
pause

Berikut ini, pointer-pointer materi yang saya bisa tangkap (melalui IQ atau pun ingatan yang saya miliki) tanpa saya mencatatnya dalam sebuah catatan kecil. Karena (mungkin) akan sedikit percuma saya mencatatnya dalam sebuah catatan kecil, disebabkan kanda Safari ANS sudah mempersiapkan makalah yang diserahkan kepada panitia untuk digandakan (photocopy) guna diberikan kepada seluruh audiens sebelum SG itu di mulai.
Pertama,
Pasca amandemen UUD 1945 pada tahun 1999-2002, secara otomatis menyebabkan perubahan yang menyeluruh terhadap peraturan perundang-undangan yang berada dibawahnya (UU, PERPU, PERPRES, PP, PERDA). Dan diperkirakan, membutuhkan waktu 20 tahun untuk menjabarkan ayat demi ayat, pasal demi pasal UUD 1945 dalam peraturan perundang-undangan yang berada dibawahnya sebagai aturan pelaksana (peraturan organik). Namun, nyatanya DPR hanya mampu menghasilkan kurang dari 10% dari total kebutuhan UU pada periode ini (terlalu banyak loby-loby).
Kedua,
Otonomi Daerah (OTDA) sebagai wujud dari demokratisasi di Indonesia, nyatanya bukan menjadi solusi yang cukup signifikan bagi perbaikan bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik lagi. Sebagai contoh, Bupati dan atau Walikota bertanggung jawab kepada DPRD tingkat Kabupaten dan atau Kota. Gubernur bertanggung jawab kepada DPRD tingkat Provinsi. Dan presiden bertanggung jawab kepada DPR RI. Dalam hal ini, secara institusi dan normatif, walaupun presiden sebagai kepala negara dan mempunyai kedudukan tertinggi di Indonesia, namun tidak bisa memberikan intruksi ataupun koreksi terhadap kinerja pemerintah daerah baik yang berada di tingkat provinsi maupun daerah. Karena memang, presiden tidak mempunyai kewenangan akan hal itu. Sehingga, di Indonesia ini sangat sulit (sekali) terjadinya kesatuan "visi" antara pemerintah pusat sampai pemerintah daerah. Oleh karena itu, menurut pakar Hukum Tata Negara, sistem Otonomi Daerah dengan sistem Negara federal itu sangat-sangat berbeda “tipis”.
Ketiga,
Pemerintah (pusat sampai daerah) tidak mempunyai perencanaan yang baik dalam menjalankan roda pemerintahannya, sehingga tak jarang menyebabkan tidak terserapnya APBN dan tau APBD secara maksimal untuk kesejahteraan rakyat.
Keempat,
APBN dan atau APBD pemerintah Indonesia, 60-70 persen habis disalurkan untuk membiayai pengeluaran rutin pemerintah (menggaji Pergawai Negeri, PNS, biaya oprasional pejabat pemerintah dan lain sebagainya). Dan sisanya (30-40 persen) digunakan untuk keperluan pembangunan serta kebutuhan rakyat. Oleh karenanya, rakyat Indonesia harap-maklum (jangan “protes”) kalau jalan-jalan (selain jalur provinsi) di daerah anda berlubang, atau aspalnya berkualitas tingkat rendah, dengan alasan kas pemerintah tidak mencukupi untuk perbaikan sarana-sarana umum bagi masyarakat.
Kelima,
Indonesia memiliki nilai “biru” dalam hal pertumbuhan ekonomi, hingga mencapai 5% per tahun. Ini disebabkan karena BUMN-BUMN yang ada di Indonesia itu (mayoritas) dikuasai penuh oleh para pemilik modal (konglomerat) yang mempu bersaing serta meningkatkan perekonomian bangsa Indonesia. Sehingga ditengah krisis global ini, bangsa Indonesia masih tetap bisa bertahan. Bahkan meunjukan pertumbuhan yang positif. Namun disisi lain, karena pertumbuhan ekonomi ini masih dirasakan oleh para konglomerat, belum menyentuh rakyat Indonesia yang berada dilapisan bawah. Oleh karena itu, Indonesia dalam hal pertumbuhan ekonomi menujukan respon yang positif, namun nilai “merah” dalam hal pemerataan ekonomi (bagi seluruh rakyat Indonesia).
Keenam,
“dari awal kami baru menyimak tentang Disorientasi Kepemimpinan bersekala Nasional, namun belum begitu jelas tentang Reorientasi Kepemimpinannya. Oleh karena itu, saya ingin bertanya tentang Reorientasi Kepemimpinan bagi bangsa Indonesia!? Apakah dengan teorinya pak Amien Rais dengan Negara federalnya? Atau teorinya temen-temen komunis (Musso, Aidit) dengan Revolusinya?” tanya saya kepada pak Safari ANS setelah sebelumnya mengangat tangan kanan keatas sebagai tanda saya ingin bertanya.
Reorientasi Kepemimpinan bagi bangsa Indonesia itu adalah bagai mana meminimalisir perbedaan-perbedaan yang ada di tubuh NU dan Muhammadiyah sebagai Ormas terbesar di Indonesia. Karena, ketika NU dan Muhammadiyah sudah bersatu padu untuk membangun Indonesia, maka sistem pemerintah apa pun yang digunakan oleh Indonesia kedepannya, pasti akan baik. Hari ini, Indonesia harus bisa menemukan sosok pemimpin yang bisa menjadi pemersatu antara NU dan Muhammadiyah guna kemajuan bangsa. Serta adek-adek selaku kader muda Muhammadiyah harus bisa mengembalikan Muhammadiyah kepada hittah-nya sebagai Organisasi Masyarakat (Ormas), Gerakan Pembaruan Islam jangan sampai terjebak dalam jeratan politik praktis, yang menobatkan diri sebagi kaum politik puritan”. Beliau menjawab dengan sederhana namun penuh makna dan tentunya cukup sulit, bahkan (sangat) sulit untuk direalisasikan dalam dunia nyata. Tapi, sejatinya: tak ada yang tidak mungkin!

—7,
Adzan Maghrib berkumandang, terdengar jelas suara adzan tersebut, karena berasal dari Masjid Fathullah UIN Jakarta yang berjarak (sekitar) 40 meter dari temapat kami mengadakan Studium General (Aula Fastabiqul Khairat). Sehingga kanda Safari ANS pun sesegera mungkin mensudahi pembicaraannya.
“Mohon maaf jikalau terdapat kekurangan dalam penyampaian materi dalam Studium General kali ini. Karena memang, saya baru dihubungi oleh de Fahmi itu tadi pagi dan waktu menyiapkan makalahnya hanya sekitar dua jam. Maka (dirasa) wajar kalau terdapat kekurangan dalam makalah yang saya buat”.[]

0 komentar to “Little Note”

Posting Komentar

 

Gilad Gibran Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger Templates