Tulisan
ini hanya sebatas tulisan biasa yang ditulis oleh seorang manusia biasa. Manusia
bisa yang sebagaimana kebanyakan manusia yang lainnya. Sangat dekat dengan
ketidaksempurnaan di tengah lautan maha sempurnanya Tuhan. Ditulis menggunakan
huruf Garamond biasa, yang tertera di daftar font. Keyboard yang
biasa. Netbook biasa (yang kalau di banting Insya Allah akan
rusak secara otomatis). Oleh karena itu, tulisan ini memang (benar-benar)
biasa. Biasa sebagaimana adanya.
Tepatnya
ketika akhir tahun 2010 DPD IMM DKI Jakarta mengadakan kegiatn Kordinasi Cabang
(Korcab) di Auditorium UMJ yang dihadiri oleh PC-PC IMM Se-DKI Jakarta serta
delegasi dari Pimpinan Cabang Bekasi, Jawa Barat. Pertemuan tersebut diadakan
selama dua hari satu malam full (non stop).
Waktu
itu saya masih sebagai Ketua Bidang (Kadid) Pengkaderan (yang sekarang lebih
dikenal dengan sebutan Kabid. Kader) Pimpinan Komisariat Syariah dan Hukum IMMCabang Ciputat (Periode 2010-2011). Immawan Muhammad Immawan al Amiry
perwakilan dari Pimpinan Komisariat Tarbiyah dan Keguruan. Immawati Nur Uchti
Alfath dari Pimpinan Komisariat Adab dan Humaniora. Ila Nugraha perwakilan dari
IMM Cabang Cireundeu (aktifis se-Himalaya Jakarta). Pimpinan Cabang dari
Ciputat dihadiri oleh Kanda Welly Catur
Satioso sebagai Kabid. Pengkaderan beserta Sekbid-nya Ka Nuy (Nur
Sakinah Nasution), Ka Sarah (Tsauroh Arrisalati) sebagai Kabid. Immawati
serta menyusul kemudian Kanda Muhammad Iqbal selaku Ketua Umum PC IMM Ciputat
(Periode 2009-2010). Selaku penyelenggara kegiatan, Dewan Pimpinan Daerah IMM
DKI Jakarta; Kanda Ristan Alfino sebagai Ketua Umum, Kanda Cecep Suyudi Maulani
sebagai Kabid. Organisasi, Kanda Edi Setiawan, Kanda Amir Fiqi, Kanda (Om)
Toto Tohari serta yang (jajaran pengurus) lainnya. Serta pemandu diskusi dalam
hal Perkaderan (SPI), Kanda Muhammad Abdul Halim Sani (Pengarang Buku Manifesto
Gerakan Intelektual Profetik). Serta masih banyak lagi immawan, immawati
serta kakanda yang hadir pada kesempatan Korcab tersebut yang tak sepat saya
mengingatnya (atau tidak pernah ingat) atau bahkan terlupakan dan (mungkin)
dilupakan nama-namanya. Mohon maklum!
Fokus
utama kegiatan dari Kordinasi Cabang (Korcab) ini adalah “pemantapan” dalam hal
organisasi serta perkaderan ikatan di masing-masing Pimpinan Cabang. Korcab
juga diadakan sebagai Monitoring bagi DPD IMM DKI Jakarta terhadap grafik
perkembangan Pimpinan Cabang-Pimpinan Cabang se-DKI Jakarta (Plus PC
IMM Bekasi), serta sebagai wahana silaturahmi antar Pimpinan Cabang. Dan
Litle sharing pun dari masing-masing Pimpinan Cabang menjadi fenomena
alamiah yang tak terhindarkan pada kesempatan Korcab kali itu. Pause!
Berbicara
tentang organisasi pada tubuh IMM yang notabene sebagai Organisasi Kader
serta Organisasi Struktural yang mempunyai jaringan bersekala nasional, maka
Pedoman Organisasi menjadi suatu keniscayaan dan (mungkin) menjadi rujukan
utama dalam menjalankan mekanisme organisasi secara administratif. Dan yang
paling penting, Pedoman Administrasi[1]
ini menjadi buku wajibnya IMM se-Indonesia dalam menjalankan Tartib Organisasi (sebelum
ada revisi terhadap ketentuan serta isinya). Di dalam buku Pedoman
Administrasi cukup lengkap, karena (memang) terdapat delapan BAB dengan enam
ketentuan utama/pokok (karena BAB pertama dan terakhir [pastinya] berisikan tentang
Pendahuluan dan Penutup dari Pedoman tersebut). Enam ketentuan pokok lainnya;
Administrasi Kesekretariatan, Administrasi Kearsipan, Administrasi Keuangan,
Administrasi Keanggotaan, serta Atribut Organisasi.
Berkaitan
dengan Perkaderan, maka Sistem Perkaderan Ikatan yang lebih populer dengan
sebutan SPI ini menjadi rujukan utama dalam hal mengusahakan
terbentuknya Profile kader yang diharap(kan) oleh ikatan, oleh IMM. Yakni
berporos pada sosok kader yang mempuni dalam hal intelektualitas,
humanitas dan religiusitas, yang kemudian disebut sebagi Tri Kompetensi Dasar
Ikatan. Berkaitan dengan SPI tak banyak yang bisa saya jelaskan. Karena SPI
berbeda dengan Pedoman Administrasi, SPI itu ibarat “resep rahasia” guna
membentuk profile kader diharap(kan) oleh IMM dan Perkaderan merupakan
proses “memasaknya”, proses pembentukkannya. Oleh karena itu, dalam hal ini, SPI
tidak menjadi konsumsi khalayak umum (namanya juga “rahasia”). Cukup Rumah
Tangga (intern) IMM yang mengetahuinya secara mendetailnya. Pause!
Ada
sedikit pertanyaan yang cukup kuat, setidaknya itu yang menjadi kegundahan hati
terhadap apa yang saya dapat(i) dalam Sistem Perkaderan Ikatan (SPI). Dan itu
juga yang menjadi salah satu sebab terlahirnya tulisan ini. Dan juga menjadi
salah satu “pemicu” diadakannya kegitan Bedah Buku Manifesto Gerakan
Intelektual Profetik, di Aula Fastabiqul Khairat pada Jumat sore,
tertanggal 03 Juni 2011 dengan menghadirkan narasumber Kanda Sani (Penulis),
Kanda Ristan Alfino (DPD IMM DKI Jakarta), Kanda Malik (DPP IMM) serta Kanda
Nafi’ (aktifis IMM Jawa Timur). Karena (memang), berkaitan dengan tiga istilah yang menjadi pokok perjalanan IMM
dari A sampai Z (minal awal ila akhir). Namun seolah “terlupakan” dalam
pergerakannya!
“Perkaderan ikatan merupakan proses pembelajaran
yang dilakukan oleh kader dalam kehidupan, baik bersama ikatan ataupun ketika
sudah berada di luar struktur ikatan. Sistem perkaderan ikatan secara filosofis
merupakan penerjemahan perkaderan yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Hal tersebut dapat dilihat
nama perkaderan yakni Darul Arqam. Darul Arqam dalam sejarahnya
merupakan nama tempat sahabat nabi yakni Arqam Ibn Abil Arqam.
Perkaderan tersebut, melahirkan generasi awal Islam seperti, Abu Bakar, Ali
Ibnu Thalib, Siti Khotijah dan yang lain. Filosofis perkaderan yang
dilakukan oleh Rasul, yakni penanaman nilai-nilai Islam secara kaffah,
mengubah kesadaran sehingga timbul kesadaran al syaksiyah faal fadli
(hablum minallah dan hablum ninanas). Proses tersebut merupakan kristalisasi
kader, sedangkan kaderisasi dengan melaksanakan proses tujuan imm
sehingga terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia untuk mencapai
tujuan Muhammadiyah yang tertuang dalam kaderisasi yang dilakukan oleh ikatan.
Selanjutnya konsolidasi yang dilakukan oleh ikatan dengan proses
penggunaan identitas simbolik dengan memahami makna symbolnya, sedangkan
identitas subtansi merupakan kerangkan pikir anggota ikatan. Dalam melakukan
konsolidasi ikatan terdapat proses individuasi kader yang mampu melahirkan
kolektifitas gerakan, atapun sebaliknya, kolektifitas ikatan mampu melaukan
individuasi.”[2]
Adakah
yang bisa membantu saya! Apa maksud dari semua ini? Apa maksud dari trem Kristalisasi,
Kaderisasi dan Konsolidasi? Apa istilah yang cocok bagi tiga istilah di atas
yang belum tergabung dalam satu wadah! Pentingkah ini (kita bahas)?
(sangat) PENTING setidaknya bagi saya. Karena (memang) tiga istilah ini
menjadi pokok perjalanan (disiplin) suatu Organisasi Kader yang bersekala
Nasional. Namun seolah (sedikit) “terlupakan”. Oleh karena itu, (setidaknya
bagi saya) penting untuk sekedar merumuskan “wadah” bagi tiga istilah tersebut.
Tri
Kompetensi Dasar Ikatan sudah ada, yakni intelektualitas, religiusitas dan
humanitas. Trilogi Ikatan; kemahasiswaan, keagamaan dan kemasyarakatan. Namun
untuk trem Kristalisasi, Kaderisasi dan Konsolidasi, kira-kira apa ya?
(yang cocok!) Apa mungkin TRIO “K” (Trio Ka—red), karena dari ketiga
istilah itu konsonan fokal (dasar) huruf pertamanya berawal(an) huruf “K”. Atau
mungkin “Tri Software”. Karena saya berasumsi bahwa trem Kristalisasi,
Kaderisasi dan Konsolidasi merupakan Software yang cukup urgent
dalam menjalani perjalanan pergerakan suatu organisasi (Ikatan). Dan Hardware-nya
adalah DAD, DAM, DAP, LID, LIM, LIP Seminar, Talk Show, Demonstrasi dan
lain sebagainya.
Ach,
tapi itu hanya sebatas “asumsi” saja,
tak lebih. Asumsi yang lahir dari seorang manusia bisa. Manusia bisa yang
sebagaimana kebanyakan manusia yang lainnya. Sangat dekat dengan
ketidaksempurnaan di tengah lautan maha sempurnanya Tuhan.
Jadi,
tak perlu ada yang dihiraukan dari tulisan ini, ya sudahlah...[]
[1] Tak kenal
maka tak sayang! (maksud...!!) Pedoman Administrasi itu mengunakan 22 page, berkertas
A4 (21 cm x 29.7 cm) dengan ukuran top 2.5 cm botton 2.5 cm
right 2 cm left 1 cm. Dengan menggunakan font Arial
berukuran 11 (besarnya) dan berspasi 1 (spasi) serta secara keseluruhan menggunakan
5.456 word.
[2]
Sistem Perkaderan Ikatan.