Dalam kurun waktu
sepuluh-bulan-terakhir ini, seolah banyak hal yang harus aku pikirkan.
Berkaitan dengan kehampaan-hidup yang tiba-tiba hadir dan mengendap dalam jiwa
ini. Entah mengapa? Ya, entahlah! Aku hanya bisa berspekulasi bahwa
ini merupakan caranya Tuhan untuk berkomunikasi dengan makhluk-Nya, memproses
transformasi hidayah: menyadarkan
sang makhluk untuk mencapai titik-sadarnya.
Tentang realitas makhluk sebagai makhluk, dan Tuhan sebagai Tuhan dengan segala
koneksitas dan preogritas-Nya.
Terkadang dalam
hidup ini, tidak semua hal bisa kita rasionalisasikan dalam konteks
positifistik. Kehidup-an juga mempunyai khazanah yang bersifat metafisik dan
sulit atau bahkan tidak dapat dirasionalisasi-kan, baik melalui rumus-rumus,
teori-teori atau diktat-diktat yang tersedia. Namun, saya kira: tidaklah Tuhan menciptakan segala sesuatu ini
dengan sia-sia! Jadi, baik hal
yang bersifat fisik maupun metafisik, keduanya mempunyai tujuan-penciptaannya
tersendiri. Sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Sang Pencipta. Walaupun
terkadang, belum terbahasakan oleh kata-kata, belum tersurat oleh literatur
yang ada dan juga belum terdefinisikan oleh akal manusia. Pada hakikatnya: sesuatu hal yang belum kita ketahui, belum
tentu tidak ada. Bisa jadi, sesuatu itu ada tetapi kita belum mengetahui
keberadaannya.
Dalam hal ini,
harus ada kore-lasi yang harmonis antara kehendak Tuhan dengan dinamika kosmo,
perjalanan tata-nilai-kehidupan makhluk-Nya dalam koridor: sunatu-llah.
Manusia sebagai bagian dari kosmo, mempunyai peran yang sama dalam
menginternalisasi kehendak Tuhan. Walaupun manusia mem-punyai keistimewaan
tersendiri, yakni sebagai makhluk-merdeka. Oleh karena itu, kemerdekaan yang
dimiliki oleh manusia harus diimbangi dengan prangkat-lunak-utama yang dimiliki
secara kodrati olehnya, yaitu akal. Dengan akal manusia dapat memaksi-malkan
kemerdekaan yang ia miliki dengan pertimbangan-pertimbangan kesadaran serta
hidayah-hidayah lain-nya yang telah Tuhan anugrahkan. Entah itu melalui wahyu
maupun ilham, baik dengan pelantaraan hal-hal yang bersifat tersurat maupun
tersirat.
Dengan takdir dasar manusia sebagi makhluk
yang Tuhan ciptakan dengan: “laa
ta’lamuna syai’a”, memberikan
instrumen motivasi tersendiri bagi akalnya (manusia) untuk senantiasa
memaksimalkan daya-fikirnya guna menyelesaikan ketidaktahuan yang ia miliki
menuju kepada pintu-pintu ketidaktahuan berikutnya, yang lebih tinggi maqqam-nya.
Hingga pada puncaknya manusia dipaksa untuk mencapai pada titik-sadarnya: tentang realitas makhluk sebagai makhluk, dan
Tuhan sebagai Tuhan dengan segala koneksitas dan preogritas-Nya.
Wallahu ‘alam ‘ala kuli hal...