Senin, 16 Januari 2012

“Tepung Sono” Generasi Motekar Jakarta

,
1
Prolog
Sore itu, pada pukul 15.15 hujan rintik-rintik membasahi kawasan Ciputat Timur dan sekitarnya. Air yang setetes demi setetes turun dari langit, dari awan putih kehitam-hitaman yang menggumpal. Bagai serdadu-serdadu perang yang tengah bersiap-siaga guna menghadapi peperangan terbesar sepanjang peradaban. Perang Dunia.
Sore itu, pada pukul 15.15 hujan rintik-rintik membasahi kawasan Ciputat Timur dan sekitarnya. Bagaimana pun, hujan tetaplah hujan. Hujan adalah ujian. Hujan adalah rahmat. Hujan adalah anugrah yang Tuhan berikan bagi setiap makhluk-Nya, yang non-metafisik. Tak terkecuali.
Sore itu, pada pukul 15.15 hujan rintik-rintik membasahi kawasan Ciputat Timur dan sekitarnya. Sang hujang sedang berbaik hati menemani rasa bosan yang mengendap disetiap sanubari. Pada tubuh dan jiwa yang sedang menunggu. Menunggu seseorang. Seorang teman yang sejak ba’da dzuhur tadi sudah berangkat dari Pasar Senen (Jakarta Pusat) menuju Ciputat Timur. Dan kali itu, sepertinya saya harus meng-iya-kan suatu statement. Salah satu pekerjaan yang memiliki tingkat kebosanan cukup tinggi: menunggu.
Sore itu, pada pukul 15.15 hujan rintik-rintik membasahi kawasan Ciputat Timur dan sekitarnya. Dan akhirnya, tak lama kemudian ia pun datang. Muncul dari sebuah Angkot berwana biru langit. Dengan pakaian kaos oblong polos, celana levis hitam, dengan tas laptop jinjing hitam. Ya, Dikdik Ali Akbar. Sore itu, dengan senyum khasnya, dikdik seolah sedang memberikan simbol pembuka,  muqadimah dari pertemuan kami tersebut.

2
Tepung Sono
Tak lama kemudian, kami pun sampai di tempat yang kami tuju, di basecamp Himalaya Jakarta. Sebuah tempat sederhana, berukuran (sekitar) tujuh kali sembilan meter (persegi) dengan satu ruangan utama, satu dapur, toilet dan satu sekat khusus bagi para penghuni basecamp. Di ruang utama tersedia dua buah karpet kecil, satu televisi, satu kipas angin kecil dengan banner berukuran besar bertuliskan Struktur Organisasi Himalaya Jakarta yang menempel di dinding, serta satu lemari arsip organisasi yang berwarna hitam. Ruangan itu seolah menyambut kedatangan kami kala itu!
Sore itu saya (sedikit) “sengaja” untuk tidak menghubungi atau sekedar mengirim SMS pemberitahuan kepada para penghuni basecamp. Bahwa pada Sabtu sore itu, akan dijadikan tempat kumpul-kumpul, Tepung Sono Generasi Motekar Jakarta (baca: “alumnus” PKPS 9). Ya, minimal beberapa jam sebelum pelaksanaan Tepung Sono itu, ruangan sudah bersih atau sekedar menyiapkan sedikit hidangan ala kadarnya. Tetapi tidak demikian! Tak ada persiapan yang spesial pada sore itu. Dalam hal ini saya ingin lebih memberikan suatu “keadaan” yang lebih natural. “Suasana” yang lebih alami. Serta “budaya” yang lebih apa adanya. Bagai “air” yang mengali sesuai dengan sunatullah-Nya, mengisi setiap ruang yang kosong dan selalu berjalan menghampiri daratan yang lebih rendah, dari hulu sampai hilir. Ini  hanya sebuah “analogi” dan “apologi”. Hehe!!
Sesuai dengan agenda awal, bahwa waktu pelaksanaan Tepung Sono itu di mulai pada pukul 15.30 WIB. Namun, berhubung yang baru stay di lokasi hanya; kang Ayoy Muharor (STEI SEBI), kang Agus Salim (UIN Jakarta), kang Dikdik Ali Akbar (PTIQ Jakarta) dan saya, Fuji Abdurrahman (UIN Jakarta). Beberapa menit kemudian, barulah “merapat” kang Jejen Sukrillah (UIN Jakarta), kang Luthfi Adam (UIN Jakarta) dengan style rambut-barunya, kang Bilal Saputra (UIN Jakarta), disusul kang Haris Wadon sebagai tamu istimewa. Kang Ahmad Mustaqil Billah dan kang Ujang Sudrajat (sama, dari UIN Jakarta).
Kemudian, kami pun melepas rindu. Halaman depan basecamp Himalaya Jakarta menjadi saksi bisu dari kerinduan kami. Membuka kembali lembaran kenangan demi kenangan bersama komandan Jachnever, bersama para panitia, fasilitator, bersama alam, gunung-gunung, kabut, hujan, mentari dan lainnya. Semuanya kami absen, moment-moment “krusial” yang sempat kami rekam. Setidaknya, dalam ingatan kami masing-masing. Nice..
Suasana seperti itu. Suasana dimana kami menjadi seolah mempunyai “dunia” sendiri. Dunia yang terlepas dari masalah-masalah kehidupan “dunia”; masalah kampus, keluarga, organisasi, pribadi. Tertawa lepas. Se-lepas mungkin. Tak memperdulikan orang lain yang sedang lalu-lalang. Dan seolah waktu pun berjalan dengan begitu cepatnya. Tak terasa, waktu sudah menujukan pukul 16.10 WIB. Hingga akhirnya, kami menyepakati untuk mensudahi “ngerumpi” kami dan bergegas masuk ke dalam ruangan. Guna memulai acara “Tepung Sono”.
Teh Ay Sumiyati (UIN Jakarta) tidak bisa hadir karena lagi sibuk. Kang Dinata Firmansyah (UIN Jakarta) tak ada kabar. Teh Lela Mulyani (STEI SEBI) izin untuk tidak "merapat". Dan terakhir, kang Alvin Dwinata (kebetulan) sedang tidak dapat dihubungi, dan menurut “kabar” yang kami terima, ia sedang Study Banding ke India selama dua minggu (plus jalan-jalan..hehe,). 
Setelah kami memastikan bahwa tidak ada lagi yang harus kami tunggu. Maka kami pun memulai acara Tepung Sono itu dengan mengucap “basmalah” bersama-sama. Kemudian, setelah dilakukan musyawarah, kendali acara pun dipegang oleh kang Dikdik Ali Akbar. Sebagai prolog, kang Dikdik mengutarakan pointer-pointer atau agenda Tepung Sono pada kesempatan sore itu. Diantaranya; 1) Pembagian Sertifikat, 2) Pembentukan struktur Motekar Salapan Jakarta (ketua, sekretaris dan bendahara) beserta tugas-tugasnya masing-masing, 3) Merencanakan kegiatan Sunda Night dalam rangka memeriahkan satu dasawarsa Gema Jabar, dan yang terakhir 4) Menyiapkan penyambutan bagi Motekar Salapan Bogor yang akan “bersilaturahmi” ke Jakarta.

Sore hari yang begitu santai, kumpulan Tepung Sono pun begitu cair. Dengan dibarengi air Ekstra Jos dingin plus Susu, di tambah dengan makanan ringan, “kriuk-kriuk”, tak lupa “asap” rokok Neo Mild pun menyelimuti seluruh ruang, seolah menjadi kabut di kala senja. Tak terasa, sudah Satu Jam Lima Belas Menit kami berbicara, berdialektika, mengutarakan ide, gagasan, konsep, opsi-opsi acara dalam menyempurnakan konsep kegiatan yang sedang direncanakan.
Tepat pada pukul 17.25 kang Dikdik pun mem-pause pembicaraan dan membuka tas laptop-jinjing-nya yang ia bawa, kemudian mengeluarkan sertifikat serta membagikannya kepada sembilan Generasi Motekar Jakarta yang hadir pada kesempatan Tepung Sono tersebut. Setelah semua mendapatkan sertifikatnya masing-masing. Maka kami pun bergegas ke luar ruangan guna mencari beautiful space yang cocok untuk sekedar “mengambil” gambar. Mengabadikan moment kala itu. Dan kami pun memilih dua space, di depan “Saung Sae” dan di halaman depan basecamp Himalaya Jakarta.
Setelah itu, kami pun kembali ke ruangan. Mem-play kembali pembicaraan yang tadi sempat kami pause. Dan sekitar tiga puluh menit kemudian, adzan maghrib pun berkumandang, dan pembicara di Tepung Sono pun dicukupkan sekian. Dengan berbagai keputusan-keputusan yang kami sepakati; pertama, pembentukan struktur Generasi Motekar Jakarta; dengan ketua: kang Dikdik Ali Akbar, sekretaris: kang Fuji Abdurrahman dan bendahara: kang Agus Salim. Yang mempunyai tugas secara umum, memperkuat jaringan serta silaturahmi baik intern maupun ekstern, serta yang terpenting, berkoordinasi dengan Pengurus Umum Generasi Motekar (Salapan), kang Fani Gunawan beserta Jajarannya. Dan secara khusus, untuk bendahara, kita menyepakati iuran wajib sebesar Sepuluh Ribu Rupiah per Bulan. kedua, kegiatan Sunda Night dalam rangka memeriahkan satu dasawarsa Gema Jabar, di diproyeksikan terlaksana pada pertengahan bulan Maret 2012 dengan rangkaian acara yang kami elaborasi; Lomba Kreasi Angklung/Teater Kasundaan, Saresehan dan pada malam puncaknya, Sunda Night, dengan menampilkan kesenian-kesenian sunda di Jakarta. Opsi tempat, di Kompertais UIN Jakarta, Syahida Inn, di Lapangan Parkir Student Center UIN Jakarta serta di Gedung Pertunjukan Seni “Miss Tjitjih”, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Ketiga, menyiapkan penyambutan bagi kang Reza dkk (baca: Generasi Motekar Bogor) yang akan “bersilaturahmi” ke Jakarta. Yang kami rencanakan pada weekend ini, pada 21-22 Januari 2012 (dalam konfirmasi), dengan Kang Luthfi Adam sebagai PJ Umum, PJ Tempat kang Ujang Sudrajat, PJ Acara kang Agus Salim dan PJ Konsumsi kang Ayoy Muharor. Dan yang terakhir, keempat, untuk kegiatan pusat, Motekar Menulis, kami hanya memberikan penugasan menulis secara berkala (periodik).

3
Epilog
Demikian, narasi dari notulensi pada acara Tepung Sono di basecamp Himalaya Jakarta pada Sabtu sore pada tanggal 14 Januari 2012. Terakhir, ada beberapa closing statement yang (setidaknya) masih saya ingat, yang kami utarakan di penghujung acara “Tepung Sono” itu. Misal, semoga acara yang sudah kita rencakan dapat berjalan sebagimana mestinya. Semoga silaturahmi kita ini semakin erat dan terjaga. Jangan lupa, silih asah, silih asih, silih asuh. semoga konsisten/istiqamah. Sekali bendera sudah tertancap di tanah, maka pantang untuk di cabut kembali. Jangan sampai apa yang sudah kita bicarakan pada sore ini seperti haneut-haneut tai kotok atau siga baseuh na kuburan (kur ka tilu poe, tujuh poe atau ka opat puluh poe na).

Hormat kami, Generasi Motekar Salapan Jakarta!
Hatur nuhun...[]

0 komentar to ““Tepung Sono” Generasi Motekar Jakarta”

Posting Komentar

 

Gilad Gibran Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger Templates