Sabtu, 27 Oktober 2012

SKRIPSI #2

,



Sekripsi, oh Skripsi..

..perjalananmu diam-diam didalam fikiranku, membuat akumulasi kegalauan dalam kedalaman diri ini..

My mind..

Berbicara tentang mata kuliah, dosen, kurikulum, fasilitas kampus, aturan mahasiswa, sistem seolah hanya menjadi kewenangan para Teknokrat Kampus. Mahasiswa tidak mempunyai andil disana!

What the mean?

Mungkin, tugas Mahasiswa hari ini adalah memaksimalkan potensi: guna memaksimalkan pelayanan yang disediakan oleh para teknokrat tersebut.

Cukup itu? Memaksimalkan potensi! tidak lebih!?

Apakah hal ini berarti bahwa: yang berperan sebagai subjek adalah para Teknokrat Kampus. Objeknya adalah Mahasiswa.

(?)

Kalau begitu adanya, apa guna UKM, untuk apa ada HMPS, BEMF!?

Apakah semua itu bagaian dari fasilitas yang disediakan oleh kampus, Teknokrat, sebagai media aktualisasi para Mahasiswa!?

Media aspirasi? Menuntut kewenangan yang lebih, bgi Mahasiswa…!?

Sampai hari ini, saya tidak melihat itu, media penyalur aspirasi mahasiswa! Kecuali dirimu: tulisan-ku.

Beberapa tahun terakhir ini saya sering melihat para Mahasiswa turun kejalan, menyuarakan aspirasi mereka. Bentuk penolakan terhadap akan diterapkannya BHP di kampus, yang akan dilegalitaskan melalui UU.

HAPUSKAN BHP…!!

TOLAK LIBERALISASI KAMPUS!

…itu yang saya ingat. Selebihnya, saya tidak faham. Apa itu BHP, kenapa di Tolak kawan-kawan mahasiswa, sampai sedemikian rupa.

Namun, sampai hari ini, ketika kehadiranmu diam-diam dlam fikiranku, membuat krangka berfikir ini menelaah dalam-dalam.. Kenapa tidak ada suara penolakan satu pun terkait BLU. Padahal baik BHP maupun BLU dua-duanya sama saja: seputar-sekitar liberalisasi kampus. Perbedaannya, BHP berkaitan dengan Badan Hukum. Kalau BLU berkaitan dengan sistem.

Hmm,

Kenapa bisa demikian?

Secara empiris, entah disengaja ataupun tidak, metode kehadiran BHP itu dengan menggunakan gerakan top-down. Sehingga aromanya tercium seantero nusantara. Namun, kehadiran BLU itu batten-up, BLU hadir secara softing ditiap-tiap kampus dengan menawarkan berbagai kebaikan, tawaran-tawaran yang menguntungkan. Biasanya berupa: dana bantuan oprasional, ataupun yang paling efektif beasiswa bagi para calon mahasiswa. Dalam rangka perbaikan citra BLU di kampus terkit! Dan ini berlangsung secara sistematis dan radikal. Tanpa kita sadari bersama: ia ada..

OMG..

Sejatinya, dalam ajaran Islam itu kan jelas, bahwa Ujian itu tidak hanya berupa hal-hal yang tidak kita sukai: musibah, tetapi hal-hal yang kita sukai pun, itu merupakan ujian dari-Nya: nikmat.

Hmm,

Secara umum, baik BHP maupun BLU, berimplikasi pada liberalisasi kampus di seluruh Indonesia. Segala hal yang berkaitan dengan ke-kampus-an menjadi tanggungjawab para teknokrat kampus secara umum, dan minimnya campur-tangan Negara disana.

Konkretnya, mahasiswa membayar uang kuliah, belajar disana, melakukan penelitian dan para teknokrat kampus melayani mahasiswa dengan segala fasilitas-fasilitas pendidikan yang ada di kampus tersebut. Baik berafeliasi ataupun tidak, itu menjadi kewenangan kampus..

Pertanyaan kemudian, bagaimana dengan kampus-kampus yang fasilitas pendidiknnya belum mapan. Masih minimalis, atau sedang dalam pengembangan!?

BHP/BLU tidak mempersoalkan itu. Berkaitan dengan pendanaan, itu semua menjadi otoritas para teknokrat kampus. Dalam hal ini, kampus bisa memaksimalkan sumbangan dari perusahaan atau lembaga lain (dengan krangka hubungan timbale balik, tentunya), pembayaran uang kuliah mahasiswa (cepat atau lambat: meroket!) dan terakhir mengembangkan penelitian kampus, sehingga memiliki nilai lebih.

BHP/BLU merupakan sistem yang diadopsi dari kampus-kampus mapan yang ada diluar negeri. Tentunya, dengan pendanaan yang kuat, memiliki sistem mengakar, fasilitas yang luar biasa dan yang paling penting, hasil penelitian mereka bisa bersaing di pasar-pasar industry/iptek. Sehingga liberalisasi kampu, no problem! Bersaing, its ok..

Namun, jika sistem tersebut diadopsi pada kampus-kampus yang ada di Indonesia… (?)

Maybe..

Biaya kuliah menjadi mahal, sulit dijangkau oleh generasi bangsa secara umum..

Kampus menjadi tempat produksi serjana-serjana bangsa yang siap kerja, siap menjadi buruh-buruh kantor, atau mungkin masuk dalam daftar indeks: serjana-serjana muda menganggur..

Mahasiswa dipropaganda untuk percepatan pelaksanakan atau menelurkan sebuah penelitian: Skripsi dan yang sejenis dengannya..

Hmm,

Skripsi, oh Skripsi..

..aku meyakini, engkau beserta para pemujamu bukanlah Kambing-Hitam, atas semua..

Salam senyum: mentap masa depan..

@giladisem :)

Rabu, 24 Oktober 2012

SKRIPSI #1

,



Akhir-akhir ini, ada fenomena menarik yang saya alami: terkait Skripsi.
 


Mungkin ini merupakan gejala umum, yang dialami oleh seluruh mahasiswa pada semester-semester akhir, atau hanya pengalaman pribadi. Entahlah! Untuk hari ini, saya hanya bisa berspekulasi.

Di kampus, di kelas, di sela-sela pembelajaran, di pembicaraan santai, bahkan di jejaring sosial atau media lainnya, tema-tema terkait Skripsi begitu hangat. Bahkan tak jarang, beberapa mahasiswa yang memposisikan tema Skripsi menjadi tema hot. Nuansa propaganda Skripsi seolah begitu dekat. Terlepas dari terpropaganda atau tidak. Atau apakah mampu atau tidak menggapai maqam Skripsi tersebut. Atau mungkin: santai ajee daach.. (hehe).

Dalam paradigma kaum sosialis dan atau madzhab anti neo-lib, maka tema-tema Skripsi menjadi sesuatu hal yang biasa saja. Tidak ada reaksi yang signifikan guna merespon propaganda tersebut. Karena bagi penganut paradigma ini, percepatan selesainya Skripsi berarti percepatan proses pembelajaran, dan juga otomatis percepatan terciptanya para serjana-serjana baru. Implikasinya: sistem pendidikan tidak ada ubahnya seperti sistem produksi. Sekolah/kampus sama dengan mesin produksi (input-proses-output) yang berorientsi pada permintaan publik.

Hmm, apakah anda sepakat dengan rasionalisasi “mereka”?

Well, cukup sulit untuk diterima memang, terkait rasionalisasi tersebut. Namun, bagi mereka: ini merupakan sebuah keyakinan, tidak hanya sebatas pengetahuan atau rasionalisasi. Bahwa pendidikan tidak hanya tentang input-proses-output yang berorientasi pada permintaan publik. Sehingga “proses” menjadi terjebak dalam krangka formalistik. Dan ini berimplikasi langsung terhadap membiasnya nuansa-nuansa “didik” dalam tem “pendidikan”.

Ora mudeng, opo iki..

Yang pasti, sederhananya, sistem itu mau-tidak-mau harus tetap ada. Tetapi, tidak terjebak dalam krangka orientasi pasar (permintaan publik). Maksudnya, (1) proses pendidikan tidak terjebak dalam krangka formalistik, (2) harus ada korelasi yang harmonis antara proses pembelajaran, teori-teori yang dipelajari, dengan realitas masyarakat, dengan permasalahan-permasalahan yang ada.

Makin ga faham kann..!! Yo wiss, kita skip dulu dech.. (hehe)

Pause

Pertama, berbicara tentang sosialis, bukan berarti saya adalah sosialis (anti neo-lib), ini hanya sebuah refleksi. Kedua, supaya lebih berimbang, alur pada tulisan berikutnya dalam konteks paradigma kaum liberalis (siapa cepat, dia dapat: wisuda! (hehe)). Ketiga, setelah itu, maka kita akan dapat dengan mudah menemukan positioning-diri. Keempat, kita tinggal mengambil sikap: fokus.

Play

Salam hangat, Gilad Gibran..
Mahasiswa semester akhir UIN Jakarta.
 

Gilad Gibran Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger Templates