Jumat, 25 Mei 2012

Titik Sadar

,

Dalam kurun waktu sepuluh-bulan-terakhir ini, seolah banyak hal yang harus aku pikirkan. Berkaitan dengan kehampaan-hidup yang tiba-tiba hadir dan mengendap dalam jiwa ini. Entah mengapa? Ya, entahlah! Aku hanya bisa berspekulasi bahwa ini merupakan caranya Tuhan untuk berkomunikasi dengan makhluk-Nya, memproses transformasi hidayah: menyadarkan sang makhluk untuk mencapai titik-sadarnya. Tentang realitas makhluk sebagai makhluk, dan Tuhan sebagai Tuhan dengan segala koneksitas dan preogritas-Nya.

Terkadang dalam hidup ini, tidak semua hal bisa kita rasionalisasikan dalam konteks positifistik. Kehidup-an juga mempunyai khazanah yang bersifat metafisik dan sulit atau bahkan tidak dapat dirasionalisasi-kan, baik melalui rumus-rumus, teori-teori atau diktat-diktat yang tersedia. Namun, saya kira: tidaklah Tuhan menciptakan segala sesuatu ini dengan sia-sia! Jadi, baik hal yang bersifat fisik maupun metafisik, keduanya mempunyai tujuan-penciptaannya tersendiri. Sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Sang Pencipta. Walaupun terkadang, belum terbahasakan oleh kata-kata, belum tersurat oleh literatur yang ada dan juga belum terdefinisikan oleh akal manusia. Pada hakikatnya: sesuatu hal yang belum kita ketahui, belum tentu tidak ada. Bisa jadi, sesuatu itu ada tetapi kita belum mengetahui keberadaannya.

Dalam hal ini, harus ada kore-lasi yang harmonis antara kehendak Tuhan dengan dinamika kosmo, perjalanan tata-nilai-kehidupan makhluk-Nya dalam koridor: sunatu-llah. Manusia sebagai bagian dari kosmo, mempunyai peran yang sama dalam menginternalisasi kehendak Tuhan. Walaupun manusia mem-punyai keistimewaan tersendiri, yakni sebagai makhluk-merdeka. Oleh karena itu, kemerdekaan yang dimiliki oleh manusia harus diimbangi dengan prangkat-lunak-utama yang dimiliki secara kodrati olehnya, yaitu akal. Dengan akal manusia dapat memaksi-malkan kemerdekaan yang ia miliki dengan pertimbangan-pertimbangan kesadaran serta hidayah-hidayah lain-nya yang telah Tuhan anugrahkan. Entah itu melalui wahyu maupun ilham, baik dengan pelantaraan hal-hal yang bersifat tersurat maupun tersirat.

Dengan takdir dasar manusia sebagi makhluk yang Tuhan ciptakan dengan: “laa ta’lamuna syai’a”, memberikan instrumen motivasi tersendiri bagi akalnya (manusia) untuk senantiasa memaksimalkan daya-fikirnya guna menyelesaikan ketidaktahuan yang ia miliki menuju kepada pintu-pintu ketidaktahuan berikutnya, yang lebih tinggi maqqam-nya. Hingga pada puncaknya manusia dipaksa untuk mencapai pada titik-sadarnya: tentang realitas makhluk sebagai makhluk, dan Tuhan sebagai Tuhan dengan segala koneksitas dan preogritas-Nya.

Wallahu ‘alam ‘ala kuli hal...
 

Gilad Gibran Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger Templates