Enam-belas-tahun-yang-lalu..
Malam itu seperti malam biasanya: gelap-gurita. Namun, terasa berbeda. Setidaknya: bagiku dan kehidupanku. Malam itu, menjadi malam yang paling menyeramkan dalam hidupku, sangat mencekam.
Enam-belas-tahun-yang-lalu..
Sebuah tangis yang begitu hebat, keluar dari mulutku: tanpa tahu mengapa. Seolah ia ingin mengalahkan segala bunyi yang ada di rumah itu. Tanpa henti, meraung-raung. Satu nama yang keluar dari mulutku: maammmaaah, mmamaah, maamaaah. Terus mengulangnya.
Nyi Mae panik, namun ia tidak mempertemukanku dengan 'mamah'.
Pause
Kenapa? Entahlah.
Padahal jarak antara aku dengan 'mama' hanya terbatasi oleh satu dinding. Ruang-tengah dan ruang-tamu. Dekat memang, tapi terasa jauh!
Play
Nyi Mae hanya berusaha menenangkanku, menggendongku, walau itu sia-sia. Raungan itu dan kata 'mama' yang keluar dari mulut ini, tak terbendung. Hingga akhirnya, tiga-puluh-menit berlalu. Nyi Mae pun menyerah dan menyerahkan gendongan aku kepada 'mamah'. Sambil duduk dipangkuan 'mamah' yang sedang duduk di kursi sofa ruang-tamu. Aku merasa lebih tenang, sangat tenang. Nyaman.
Kenapa? Entahlah.
Aku tak tahu persis, yang jelas raut-muka itu tidak seperti biasanya: serius dan tegang. Mamah, bapak, 'uwa-uwa' dan para tamu lainnya. Tanpa senyum. Kupeluk 'mamah' sekuat tenaga, semampuku.
Kenapa? Entahlah.
Tak lama setelah itu, akupun diserahkan kembali oleh 'mamah' kepada Nyi Mae. Aku tak tahu mengapa 'mamah' seperti itu. Tangis itu terulang lagi, air-mata tak tertahankan. Namun, tangisanku yang kedua ini, diakhiri dengan rasa lelah dan lemas karena terlalu lama menangis. Hingga tidurpun tak terelakkan.
Enam-belas-tahun-yang-lalu..
Kenapa? Entahlah.
Pagi itu aku tak ingat persis, bagaimana ekspresi dari raut muka mamah dan teteh. Pagi itu yang ku ingat, adalah dengan tas-besar bapak, aku dan kaka laki-lakiku berjalan menjauhi rumah. Menjauhi kampung-halamanku.
Malam harinya, kami sampai di Cibinong, Bogor. Menetap untuk waktu yang tidak singkat. Aku tersadar: mulai saat itu aku terpisah dari kampung-halamanku sampai waktu yang tak 'kuketahui.
Tahun berikutnya, kami pindah ke Cisoka, Tanggerang. Kemudian ke Santiong, Balaraja!
***
Hari demi hari kujalani sebaik mungkin. Hingga akhirnya, satu demi satu tanda-tanya itu terjawab dengan sendirinya. Ternyata, enam-belas-tahun-yang-lalu.. merupakan saat-saat dimana 'mamah' dan 'bapak' broken home: cerai. 'Mamah' yang meminta cerai kepada 'bapak'. Itu yang ingin kuketahui. Selebihnya: lebih baik baik jadi rahasia yang tak harus kuketahui.
Terimaksih Tuhan atas kehidupan yang telah engkau anugrahkan!
Semoga Berkah Rahmat Ilahi Melimpahi Kami Sekeluarga..

