1
Prolog
Prolog
Sore itu, pada pukul 15.15
hujan rintik-rintik membasahi kawasan Ciputat Timur dan sekitarnya. Air yang
setetes demi setetes turun dari langit, dari awan putih kehitam-hitaman yang
menggumpal. Bagai serdadu-serdadu perang yang tengah bersiap-siaga guna
menghadapi peperangan terbesar sepanjang peradaban. Perang Dunia.
Sore itu, pada pukul 15.15
hujan rintik-rintik membasahi kawasan Ciputat Timur dan sekitarnya. Bagaimana
pun, hujan tetaplah hujan. Hujan adalah ujian. Hujan adalah rahmat. Hujan
adalah anugrah yang Tuhan berikan bagi setiap makhluk-Nya, yang
non-metafisik. Tak terkecuali.
Sore itu, pada pukul 15.15
hujan rintik-rintik membasahi kawasan Ciputat Timur dan sekitarnya. Sang hujang
sedang berbaik hati menemani rasa bosan yang mengendap disetiap sanubari. Pada tubuh
dan jiwa yang sedang menunggu. Menunggu seseorang. Seorang teman yang sejak ba’da
dzuhur tadi sudah berangkat dari Pasar Senen (Jakarta Pusat) menuju
Ciputat Timur. Dan kali itu, sepertinya saya harus meng-iya-kan suatu statement. Salah satu pekerjaan yang memiliki tingkat kebosanan cukup tinggi: menunggu.
Sore itu, pada pukul 15.15
hujan rintik-rintik membasahi kawasan Ciputat Timur dan sekitarnya. Dan
akhirnya, tak lama kemudian ia pun datang. Muncul dari sebuah Angkot berwana biru langit. Dengan pakaian kaos oblong polos, celana
levis hitam, dengan tas laptop jinjing hitam. Ya, Dikdik Ali Akbar. Sore itu, dengan senyum
khasnya, dikdik seolah sedang memberikan simbol pembuka, muqadimah dari pertemuan kami tersebut.
2
Tepung Sono
Tepung Sono
Tak lama kemudian, kami pun
sampai di tempat yang kami tuju, di basecamp Himalaya Jakarta. Sebuah
tempat sederhana, berukuran (sekitar) tujuh kali sembilan meter (persegi)
dengan satu ruangan utama, satu dapur, toilet dan satu sekat khusus bagi para
penghuni basecamp. Di ruang utama tersedia dua buah karpet kecil, satu televisi,
satu kipas angin kecil dengan banner berukuran besar bertuliskan Struktur
Organisasi Himalaya Jakarta yang menempel di dinding, serta satu lemari arsip
organisasi yang berwarna hitam. Ruangan itu seolah menyambut kedatangan kami
kala itu!
Sore itu saya (sedikit)
“sengaja” untuk tidak menghubungi atau sekedar mengirim SMS pemberitahuan kepada
para penghuni basecamp. Bahwa pada Sabtu sore itu, akan dijadikan tempat
kumpul-kumpul, Tepung Sono Generasi Motekar Jakarta (baca: “alumnus” PKPS 9). Ya,
minimal beberapa jam sebelum pelaksanaan Tepung Sono itu, ruangan sudah bersih
atau sekedar menyiapkan sedikit hidangan ala kadarnya. Tetapi tidak
demikian! Tak ada persiapan yang spesial pada sore itu. Dalam
hal ini saya ingin lebih memberikan suatu “keadaan” yang lebih natural. “Suasana”
yang lebih alami. Serta “budaya” yang lebih apa adanya. Bagai “air” yang
mengali sesuai dengan sunatullah-Nya, mengisi setiap ruang yang kosong
dan selalu berjalan menghampiri daratan yang lebih rendah, dari hulu sampai
hilir. Ini hanya sebuah “analogi” dan “apologi”. Hehe!!
Sesuai dengan agenda awal,
bahwa waktu pelaksanaan Tepung Sono itu di mulai pada pukul 15.30 WIB. Namun, berhubung
yang baru stay di lokasi hanya; kang Ayoy Muharor (STEI SEBI), kang Agus
Salim (UIN Jakarta), kang Dikdik Ali Akbar (PTIQ Jakarta) dan saya, Fuji
Abdurrahman (UIN Jakarta). Beberapa menit kemudian, barulah “merapat” kang
Jejen Sukrillah (UIN Jakarta), kang Luthfi Adam (UIN Jakarta) dengan style rambut-barunya,
kang Bilal Saputra (UIN Jakarta), disusul kang Haris Wadon sebagai tamu
istimewa. Kang Ahmad Mustaqil Billah dan kang Ujang Sudrajat (sama, dari
UIN Jakarta).
Kemudian, kami pun melepas rindu. Halaman depan basecamp Himalaya Jakarta menjadi saksi bisu dari kerinduan kami. Membuka kembali lembaran kenangan demi kenangan bersama komandan Jachnever, bersama para panitia, fasilitator, bersama alam, gunung-gunung, kabut, hujan, mentari dan lainnya. Semuanya kami absen, moment-moment “krusial” yang sempat kami rekam. Setidaknya, dalam ingatan kami masing-masing. Nice..
Kemudian, kami pun melepas rindu. Halaman depan basecamp Himalaya Jakarta menjadi saksi bisu dari kerinduan kami. Membuka kembali lembaran kenangan demi kenangan bersama komandan Jachnever, bersama para panitia, fasilitator, bersama alam, gunung-gunung, kabut, hujan, mentari dan lainnya. Semuanya kami absen, moment-moment “krusial” yang sempat kami rekam. Setidaknya, dalam ingatan kami masing-masing. Nice..
Suasana seperti itu. Suasana dimana
kami menjadi seolah mempunyai “dunia” sendiri. Dunia yang terlepas dari
masalah-masalah kehidupan “dunia”; masalah kampus, keluarga, organisasi,
pribadi. Tertawa lepas. Se-lepas mungkin. Tak memperdulikan orang lain yang sedang
lalu-lalang. Dan seolah waktu pun berjalan dengan begitu cepatnya. Tak terasa,
waktu sudah menujukan pukul 16.10 WIB. Hingga akhirnya, kami menyepakati untuk
mensudahi “ngerumpi” kami dan bergegas masuk ke dalam ruangan. Guna memulai acara “Tepung Sono”.
Teh Ay Sumiyati (UIN Jakarta)
tidak bisa hadir karena lagi sibuk. Kang Dinata Firmansyah (UIN Jakarta) tak ada kabar. Teh
Lela Mulyani (STEI SEBI) izin untuk tidak "merapat". Dan terakhir, kang
Alvin Dwinata (kebetulan) sedang tidak dapat dihubungi, dan menurut “kabar”
yang kami terima, ia sedang Study Banding ke India selama dua minggu (plus
jalan-jalan..hehe,).
Setelah kami memastikan bahwa tidak ada lagi yang harus kami tunggu. Maka kami pun memulai acara Tepung Sono itu dengan mengucap “basmalah” bersama-sama. Kemudian, setelah dilakukan musyawarah, kendali acara pun dipegang oleh kang Dikdik Ali Akbar. Sebagai prolog, kang Dikdik mengutarakan pointer-pointer atau agenda Tepung Sono pada kesempatan sore itu. Diantaranya; 1) Pembagian Sertifikat, 2) Pembentukan struktur Motekar Salapan Jakarta (ketua, sekretaris dan bendahara) beserta tugas-tugasnya masing-masing, 3) Merencanakan kegiatan Sunda Night dalam rangka memeriahkan satu dasawarsa Gema Jabar, dan yang terakhir 4) Menyiapkan penyambutan bagi Motekar Salapan Bogor yang akan “bersilaturahmi” ke Jakarta.
Setelah kami memastikan bahwa tidak ada lagi yang harus kami tunggu. Maka kami pun memulai acara Tepung Sono itu dengan mengucap “basmalah” bersama-sama. Kemudian, setelah dilakukan musyawarah, kendali acara pun dipegang oleh kang Dikdik Ali Akbar. Sebagai prolog, kang Dikdik mengutarakan pointer-pointer atau agenda Tepung Sono pada kesempatan sore itu. Diantaranya; 1) Pembagian Sertifikat, 2) Pembentukan struktur Motekar Salapan Jakarta (ketua, sekretaris dan bendahara) beserta tugas-tugasnya masing-masing, 3) Merencanakan kegiatan Sunda Night dalam rangka memeriahkan satu dasawarsa Gema Jabar, dan yang terakhir 4) Menyiapkan penyambutan bagi Motekar Salapan Bogor yang akan “bersilaturahmi” ke Jakarta.
Sore hari yang begitu santai,
kumpulan Tepung Sono pun begitu cair. Dengan dibarengi air Ekstra Jos dingin plus
Susu, di tambah dengan makanan ringan, “kriuk-kriuk”, tak lupa “asap” rokok
Neo Mild pun menyelimuti seluruh ruang, seolah menjadi kabut di kala senja. Tak
terasa, sudah Satu Jam Lima Belas Menit kami berbicara, berdialektika,
mengutarakan ide, gagasan, konsep, opsi-opsi acara dalam menyempurnakan konsep
kegiatan yang sedang direncanakan.
Tepat pada pukul 17.25 kang
Dikdik pun mem-pause pembicaraan dan membuka tas laptop-jinjing-nya
yang ia bawa, kemudian mengeluarkan sertifikat serta membagikannya kepada sembilan
Generasi Motekar Jakarta yang hadir pada kesempatan Tepung Sono tersebut. Setelah
semua mendapatkan sertifikatnya masing-masing. Maka kami pun bergegas ke luar
ruangan guna mencari beautiful space yang cocok untuk sekedar “mengambil” gambar. Mengabadikan
moment kala itu. Dan kami pun memilih dua space, di depan “Saung Sae”
dan di halaman depan basecamp Himalaya Jakarta.
Setelah itu, kami pun kembali
ke ruangan. Mem-play kembali pembicaraan yang tadi sempat kami pause.
Dan sekitar tiga puluh menit kemudian, adzan maghrib pun
berkumandang, dan pembicara di Tepung Sono pun dicukupkan sekian. Dengan
berbagai keputusan-keputusan yang kami sepakati; pertama, pembentukan struktur
Generasi Motekar Jakarta; dengan ketua: kang Dikdik Ali Akbar, sekretaris: kang
Fuji Abdurrahman dan bendahara: kang Agus Salim. Yang mempunyai tugas secara
umum, memperkuat jaringan serta silaturahmi baik intern maupun ekstern, serta
yang terpenting, berkoordinasi dengan Pengurus Umum Generasi Motekar (Salapan),
kang Fani Gunawan beserta Jajarannya. Dan secara khusus, untuk bendahara, kita
menyepakati iuran wajib sebesar Sepuluh Ribu Rupiah per Bulan. kedua, kegiatan
Sunda Night dalam rangka memeriahkan satu dasawarsa Gema Jabar, di diproyeksikan
terlaksana pada pertengahan bulan Maret 2012 dengan rangkaian acara yang kami
elaborasi; Lomba Kreasi Angklung/Teater Kasundaan, Saresehan dan pada malam
puncaknya, Sunda Night, dengan menampilkan kesenian-kesenian sunda di
Jakarta. Opsi tempat, di Kompertais UIN Jakarta, Syahida Inn, di Lapangan
Parkir Student Center UIN Jakarta serta di Gedung Pertunjukan Seni “Miss
Tjitjih”, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Ketiga, menyiapkan penyambutan
bagi kang Reza dkk (baca: Generasi Motekar Bogor) yang akan “bersilaturahmi” ke
Jakarta. Yang kami rencanakan pada weekend ini, pada 21-22 Januari 2012
(dalam konfirmasi), dengan Kang Luthfi Adam sebagai PJ Umum, PJ Tempat kang Ujang
Sudrajat, PJ Acara kang Agus Salim dan PJ Konsumsi kang Ayoy Muharor. Dan yang
terakhir, keempat, untuk kegiatan pusat, Motekar Menulis, kami hanya
memberikan penugasan menulis secara berkala (periodik).
3
Epilog
Epilog
Demikian, narasi dari
notulensi pada acara Tepung Sono di basecamp Himalaya Jakarta pada Sabtu
sore pada tanggal 14 Januari 2012. Terakhir, ada beberapa closing statement
yang (setidaknya) masih saya ingat, yang kami utarakan di penghujung acara “Tepung
Sono” itu. Misal, semoga acara yang sudah kita rencakan dapat berjalan
sebagimana mestinya. Semoga silaturahmi kita ini semakin erat dan terjaga. Jangan
lupa, silih asah, silih asih, silih asuh. semoga konsisten/istiqamah.
Sekali bendera sudah tertancap di tanah, maka pantang untuk di cabut kembali. Jangan
sampai apa yang sudah kita bicarakan pada sore ini seperti haneut-haneut tai
kotok atau siga baseuh na kuburan (kur ka tilu poe, tujuh poe atau ka opat
puluh poe na).
Hormat kami, Generasi Motekar Salapan Jakarta!
Hormat kami, Generasi Motekar Salapan Jakarta!
Hatur nuhun...[]