Senin, 16 Januari 2012

“Tepung Sono” Generasi Motekar Jakarta

,
1
Prolog
Sore itu, pada pukul 15.15 hujan rintik-rintik membasahi kawasan Ciputat Timur dan sekitarnya. Air yang setetes demi setetes turun dari langit, dari awan putih kehitam-hitaman yang menggumpal. Bagai serdadu-serdadu perang yang tengah bersiap-siaga guna menghadapi peperangan terbesar sepanjang peradaban. Perang Dunia.
Sore itu, pada pukul 15.15 hujan rintik-rintik membasahi kawasan Ciputat Timur dan sekitarnya. Bagaimana pun, hujan tetaplah hujan. Hujan adalah ujian. Hujan adalah rahmat. Hujan adalah anugrah yang Tuhan berikan bagi setiap makhluk-Nya, yang non-metafisik. Tak terkecuali.
Sore itu, pada pukul 15.15 hujan rintik-rintik membasahi kawasan Ciputat Timur dan sekitarnya. Sang hujang sedang berbaik hati menemani rasa bosan yang mengendap disetiap sanubari. Pada tubuh dan jiwa yang sedang menunggu. Menunggu seseorang. Seorang teman yang sejak ba’da dzuhur tadi sudah berangkat dari Pasar Senen (Jakarta Pusat) menuju Ciputat Timur. Dan kali itu, sepertinya saya harus meng-iya-kan suatu statement. Salah satu pekerjaan yang memiliki tingkat kebosanan cukup tinggi: menunggu.
Sore itu, pada pukul 15.15 hujan rintik-rintik membasahi kawasan Ciputat Timur dan sekitarnya. Dan akhirnya, tak lama kemudian ia pun datang. Muncul dari sebuah Angkot berwana biru langit. Dengan pakaian kaos oblong polos, celana levis hitam, dengan tas laptop jinjing hitam. Ya, Dikdik Ali Akbar. Sore itu, dengan senyum khasnya, dikdik seolah sedang memberikan simbol pembuka,  muqadimah dari pertemuan kami tersebut.

2
Tepung Sono
Tak lama kemudian, kami pun sampai di tempat yang kami tuju, di basecamp Himalaya Jakarta. Sebuah tempat sederhana, berukuran (sekitar) tujuh kali sembilan meter (persegi) dengan satu ruangan utama, satu dapur, toilet dan satu sekat khusus bagi para penghuni basecamp. Di ruang utama tersedia dua buah karpet kecil, satu televisi, satu kipas angin kecil dengan banner berukuran besar bertuliskan Struktur Organisasi Himalaya Jakarta yang menempel di dinding, serta satu lemari arsip organisasi yang berwarna hitam. Ruangan itu seolah menyambut kedatangan kami kala itu!
Sore itu saya (sedikit) “sengaja” untuk tidak menghubungi atau sekedar mengirim SMS pemberitahuan kepada para penghuni basecamp. Bahwa pada Sabtu sore itu, akan dijadikan tempat kumpul-kumpul, Tepung Sono Generasi Motekar Jakarta (baca: “alumnus” PKPS 9). Ya, minimal beberapa jam sebelum pelaksanaan Tepung Sono itu, ruangan sudah bersih atau sekedar menyiapkan sedikit hidangan ala kadarnya. Tetapi tidak demikian! Tak ada persiapan yang spesial pada sore itu. Dalam hal ini saya ingin lebih memberikan suatu “keadaan” yang lebih natural. “Suasana” yang lebih alami. Serta “budaya” yang lebih apa adanya. Bagai “air” yang mengali sesuai dengan sunatullah-Nya, mengisi setiap ruang yang kosong dan selalu berjalan menghampiri daratan yang lebih rendah, dari hulu sampai hilir. Ini  hanya sebuah “analogi” dan “apologi”. Hehe!!
Sesuai dengan agenda awal, bahwa waktu pelaksanaan Tepung Sono itu di mulai pada pukul 15.30 WIB. Namun, berhubung yang baru stay di lokasi hanya; kang Ayoy Muharor (STEI SEBI), kang Agus Salim (UIN Jakarta), kang Dikdik Ali Akbar (PTIQ Jakarta) dan saya, Fuji Abdurrahman (UIN Jakarta). Beberapa menit kemudian, barulah “merapat” kang Jejen Sukrillah (UIN Jakarta), kang Luthfi Adam (UIN Jakarta) dengan style rambut-barunya, kang Bilal Saputra (UIN Jakarta), disusul kang Haris Wadon sebagai tamu istimewa. Kang Ahmad Mustaqil Billah dan kang Ujang Sudrajat (sama, dari UIN Jakarta).
Kemudian, kami pun melepas rindu. Halaman depan basecamp Himalaya Jakarta menjadi saksi bisu dari kerinduan kami. Membuka kembali lembaran kenangan demi kenangan bersama komandan Jachnever, bersama para panitia, fasilitator, bersama alam, gunung-gunung, kabut, hujan, mentari dan lainnya. Semuanya kami absen, moment-moment “krusial” yang sempat kami rekam. Setidaknya, dalam ingatan kami masing-masing. Nice..
Suasana seperti itu. Suasana dimana kami menjadi seolah mempunyai “dunia” sendiri. Dunia yang terlepas dari masalah-masalah kehidupan “dunia”; masalah kampus, keluarga, organisasi, pribadi. Tertawa lepas. Se-lepas mungkin. Tak memperdulikan orang lain yang sedang lalu-lalang. Dan seolah waktu pun berjalan dengan begitu cepatnya. Tak terasa, waktu sudah menujukan pukul 16.10 WIB. Hingga akhirnya, kami menyepakati untuk mensudahi “ngerumpi” kami dan bergegas masuk ke dalam ruangan. Guna memulai acara “Tepung Sono”.
Teh Ay Sumiyati (UIN Jakarta) tidak bisa hadir karena lagi sibuk. Kang Dinata Firmansyah (UIN Jakarta) tak ada kabar. Teh Lela Mulyani (STEI SEBI) izin untuk tidak "merapat". Dan terakhir, kang Alvin Dwinata (kebetulan) sedang tidak dapat dihubungi, dan menurut “kabar” yang kami terima, ia sedang Study Banding ke India selama dua minggu (plus jalan-jalan..hehe,). 
Setelah kami memastikan bahwa tidak ada lagi yang harus kami tunggu. Maka kami pun memulai acara Tepung Sono itu dengan mengucap “basmalah” bersama-sama. Kemudian, setelah dilakukan musyawarah, kendali acara pun dipegang oleh kang Dikdik Ali Akbar. Sebagai prolog, kang Dikdik mengutarakan pointer-pointer atau agenda Tepung Sono pada kesempatan sore itu. Diantaranya; 1) Pembagian Sertifikat, 2) Pembentukan struktur Motekar Salapan Jakarta (ketua, sekretaris dan bendahara) beserta tugas-tugasnya masing-masing, 3) Merencanakan kegiatan Sunda Night dalam rangka memeriahkan satu dasawarsa Gema Jabar, dan yang terakhir 4) Menyiapkan penyambutan bagi Motekar Salapan Bogor yang akan “bersilaturahmi” ke Jakarta.

Sore hari yang begitu santai, kumpulan Tepung Sono pun begitu cair. Dengan dibarengi air Ekstra Jos dingin plus Susu, di tambah dengan makanan ringan, “kriuk-kriuk”, tak lupa “asap” rokok Neo Mild pun menyelimuti seluruh ruang, seolah menjadi kabut di kala senja. Tak terasa, sudah Satu Jam Lima Belas Menit kami berbicara, berdialektika, mengutarakan ide, gagasan, konsep, opsi-opsi acara dalam menyempurnakan konsep kegiatan yang sedang direncanakan.
Tepat pada pukul 17.25 kang Dikdik pun mem-pause pembicaraan dan membuka tas laptop-jinjing-nya yang ia bawa, kemudian mengeluarkan sertifikat serta membagikannya kepada sembilan Generasi Motekar Jakarta yang hadir pada kesempatan Tepung Sono tersebut. Setelah semua mendapatkan sertifikatnya masing-masing. Maka kami pun bergegas ke luar ruangan guna mencari beautiful space yang cocok untuk sekedar “mengambil” gambar. Mengabadikan moment kala itu. Dan kami pun memilih dua space, di depan “Saung Sae” dan di halaman depan basecamp Himalaya Jakarta.
Setelah itu, kami pun kembali ke ruangan. Mem-play kembali pembicaraan yang tadi sempat kami pause. Dan sekitar tiga puluh menit kemudian, adzan maghrib pun berkumandang, dan pembicara di Tepung Sono pun dicukupkan sekian. Dengan berbagai keputusan-keputusan yang kami sepakati; pertama, pembentukan struktur Generasi Motekar Jakarta; dengan ketua: kang Dikdik Ali Akbar, sekretaris: kang Fuji Abdurrahman dan bendahara: kang Agus Salim. Yang mempunyai tugas secara umum, memperkuat jaringan serta silaturahmi baik intern maupun ekstern, serta yang terpenting, berkoordinasi dengan Pengurus Umum Generasi Motekar (Salapan), kang Fani Gunawan beserta Jajarannya. Dan secara khusus, untuk bendahara, kita menyepakati iuran wajib sebesar Sepuluh Ribu Rupiah per Bulan. kedua, kegiatan Sunda Night dalam rangka memeriahkan satu dasawarsa Gema Jabar, di diproyeksikan terlaksana pada pertengahan bulan Maret 2012 dengan rangkaian acara yang kami elaborasi; Lomba Kreasi Angklung/Teater Kasundaan, Saresehan dan pada malam puncaknya, Sunda Night, dengan menampilkan kesenian-kesenian sunda di Jakarta. Opsi tempat, di Kompertais UIN Jakarta, Syahida Inn, di Lapangan Parkir Student Center UIN Jakarta serta di Gedung Pertunjukan Seni “Miss Tjitjih”, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Ketiga, menyiapkan penyambutan bagi kang Reza dkk (baca: Generasi Motekar Bogor) yang akan “bersilaturahmi” ke Jakarta. Yang kami rencanakan pada weekend ini, pada 21-22 Januari 2012 (dalam konfirmasi), dengan Kang Luthfi Adam sebagai PJ Umum, PJ Tempat kang Ujang Sudrajat, PJ Acara kang Agus Salim dan PJ Konsumsi kang Ayoy Muharor. Dan yang terakhir, keempat, untuk kegiatan pusat, Motekar Menulis, kami hanya memberikan penugasan menulis secara berkala (periodik).

3
Epilog
Demikian, narasi dari notulensi pada acara Tepung Sono di basecamp Himalaya Jakarta pada Sabtu sore pada tanggal 14 Januari 2012. Terakhir, ada beberapa closing statement yang (setidaknya) masih saya ingat, yang kami utarakan di penghujung acara “Tepung Sono” itu. Misal, semoga acara yang sudah kita rencakan dapat berjalan sebagimana mestinya. Semoga silaturahmi kita ini semakin erat dan terjaga. Jangan lupa, silih asah, silih asih, silih asuh. semoga konsisten/istiqamah. Sekali bendera sudah tertancap di tanah, maka pantang untuk di cabut kembali. Jangan sampai apa yang sudah kita bicarakan pada sore ini seperti haneut-haneut tai kotok atau siga baseuh na kuburan (kur ka tilu poe, tujuh poe atau ka opat puluh poe na).

Hormat kami, Generasi Motekar Salapan Jakarta!
Hatur nuhun...[]

Senin, 02 Januari 2012

Musyawirin!

,

Pada suatu Musyawarah, ada salah seorang Musyawirin bertanya kepada para calon (tujuh) kandidat Ketua Formatur.
“Apa tujuan dari IMM?” tanya salah seorang Musyawirin.
Setelah, para calon (tujuh) kandidat itu menjawab pertanyaan dari Musyawirin tadi. Ada Musyawirin lainnya, setengah berbisik: “Lho, ternyata Tujuan IMM ada banyak ya!"
Waduch . . . . . . . gumamku.[]

Tri Software

,

Tulisan ini hanya sebatas tulisan biasa yang ditulis oleh seorang manusia biasa. Manusia bisa yang sebagaimana kebanyakan manusia yang lainnya. Sangat dekat dengan ketidaksempurnaan di tengah lautan maha sempurnanya Tuhan. Ditulis menggunakan huruf Garamond biasa, yang tertera di daftar font. Keyboard yang biasa. Netbook biasa (yang kalau di banting Insya Allah akan rusak secara otomatis). Oleh karena itu, tulisan ini memang (benar-benar) biasa. Biasa sebagaimana adanya.
Tepatnya ketika akhir tahun 2010 DPD IMM DKI Jakarta mengadakan kegiatn Kordinasi Cabang (Korcab) di Auditorium UMJ yang dihadiri oleh PC-PC IMM Se-DKI Jakarta serta delegasi dari Pimpinan Cabang Bekasi, Jawa Barat. Pertemuan tersebut diadakan selama dua hari satu malam full (non stop).  
Waktu itu saya masih sebagai Ketua Bidang (Kadid) Pengkaderan (yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Kabid. Kader) Pimpinan Komisariat Syariah dan Hukum IMMCabang Ciputat (Periode 2010-2011). Immawan Muhammad Immawan al Amiry perwakilan dari Pimpinan Komisariat Tarbiyah dan Keguruan. Immawati Nur Uchti Alfath dari Pimpinan Komisariat Adab dan Humaniora. Ila Nugraha perwakilan dari IMM Cabang Cireundeu (aktifis se-Himalaya Jakarta). Pimpinan Cabang dari Ciputat  dihadiri oleh Kanda Welly Catur Satioso sebagai Kabid. Pengkaderan beserta Sekbid-nya Ka Nuy (Nur Sakinah Nasution), Ka Sarah (Tsauroh Arrisalati) sebagai Kabid. Immawati serta menyusul kemudian Kanda Muhammad Iqbal selaku Ketua Umum PC IMM Ciputat (Periode 2009-2010). Selaku penyelenggara kegiatan, Dewan Pimpinan Daerah IMM DKI Jakarta; Kanda Ristan Alfino sebagai Ketua Umum, Kanda Cecep Suyudi Maulani sebagai Kabid. Organisasi, Kanda Edi Setiawan, Kanda Amir Fiqi, Kanda (Om) Toto Tohari serta yang (jajaran pengurus) lainnya. Serta pemandu diskusi dalam hal Perkaderan (SPI), Kanda Muhammad Abdul Halim Sani (Pengarang Buku Manifesto Gerakan Intelektual Profetik). Serta masih banyak lagi immawan, immawati serta kakanda yang hadir pada kesempatan Korcab tersebut yang tak sepat saya mengingatnya (atau tidak pernah ingat) atau bahkan terlupakan dan (mungkin) dilupakan nama-namanya. Mohon maklum!
Fokus utama kegiatan dari Kordinasi Cabang (Korcab) ini adalah “pemantapan” dalam hal organisasi serta perkaderan ikatan di masing-masing Pimpinan Cabang. Korcab juga diadakan sebagai Monitoring bagi DPD IMM DKI Jakarta terhadap grafik perkembangan Pimpinan Cabang-Pimpinan Cabang se-DKI Jakarta (Plus PC IMM Bekasi), serta sebagai wahana silaturahmi antar Pimpinan Cabang. Dan Litle sharing pun dari masing-masing Pimpinan Cabang menjadi fenomena alamiah yang tak terhindarkan pada kesempatan Korcab kali itu. Pause!

Berbicara tentang organisasi pada tubuh IMM yang notabene sebagai Organisasi Kader serta Organisasi Struktural yang mempunyai jaringan bersekala nasional, maka Pedoman Organisasi menjadi suatu keniscayaan dan (mungkin) menjadi rujukan utama dalam menjalankan mekanisme organisasi secara administratif. Dan yang paling penting, Pedoman Administrasi[1] ini menjadi buku wajibnya IMM se-Indonesia dalam menjalankan Tartib Organisasi (sebelum ada revisi terhadap ketentuan serta isinya). Di dalam buku Pedoman Administrasi cukup lengkap, karena (memang) terdapat delapan BAB dengan enam ketentuan utama/pokok (karena BAB pertama dan terakhir [pastinya] berisikan tentang Pendahuluan dan Penutup dari Pedoman tersebut). Enam ketentuan pokok lainnya; Administrasi Kesekretariatan, Administrasi Kearsipan, Administrasi Keuangan, Administrasi Keanggotaan, serta Atribut Organisasi.
Berkaitan dengan Perkaderan, maka Sistem Perkaderan Ikatan yang lebih populer dengan sebutan SPI ini menjadi rujukan utama dalam hal mengusahakan terbentuknya Profile kader yang diharap(kan) oleh ikatan, oleh IMM. Yakni berporos pada sosok kader yang mempuni dalam hal intelektualitas, humanitas dan religiusitas, yang kemudian disebut sebagi Tri Kompetensi Dasar Ikatan. Berkaitan dengan SPI tak banyak yang bisa saya jelaskan. Karena SPI berbeda dengan Pedoman Administrasi, SPI itu ibarat “resep rahasia” guna membentuk profile kader diharap(kan) oleh IMM dan Perkaderan merupakan proses “memasaknya”, proses pembentukkannya. Oleh karena itu, dalam hal ini, SPI tidak menjadi konsumsi khalayak umum (namanya juga “rahasia”). Cukup Rumah Tangga (intern) IMM yang mengetahuinya secara mendetailnya. Pause!

Ada sedikit pertanyaan yang cukup kuat, setidaknya itu yang menjadi kegundahan hati terhadap apa yang saya dapat(i) dalam Sistem Perkaderan Ikatan (SPI). Dan itu juga yang menjadi salah satu sebab terlahirnya tulisan ini. Dan juga menjadi salah satu “pemicu” diadakannya kegitan Bedah Buku Manifesto Gerakan Intelektual Profetik, di Aula Fastabiqul Khairat pada Jumat sore, tertanggal 03 Juni 2011 dengan menghadirkan narasumber Kanda Sani (Penulis), Kanda Ristan Alfino (DPD IMM DKI Jakarta), Kanda Malik (DPP IMM) serta Kanda Nafi’ (aktifis IMM Jawa Timur). Karena (memang), berkaitan dengan  tiga istilah yang menjadi pokok perjalanan IMM dari A sampai Z (minal awal ila akhir). Namun seolah “terlupakan” dalam pergerakannya!
“Perkaderan ikatan merupakan proses pembelajaran yang dilakukan oleh kader dalam kehidupan, baik bersama ikatan ataupun ketika sudah berada di luar struktur ikatan. Sistem perkaderan ikatan secara filosofis merupakan penerjemahan perkaderan yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Hal tersebut dapat dilihat nama perkaderan yakni Darul Arqam. Darul Arqam dalam sejarahnya merupakan nama tempat sahabat nabi yakni Arqam Ibn Abil Arqam. Perkaderan tersebut, melahirkan generasi awal Islam seperti, Abu Bakar, Ali Ibnu Thalib, Siti Khotijah dan yang lain. Filosofis perkaderan yang dilakukan oleh Rasul, yakni penanaman nilai-nilai Islam secara kaffah, mengubah kesadaran sehingga timbul kesadaran al syaksiyah faal fadli (hablum minallah dan hablum ninanas). Proses tersebut merupakan kristalisasi kader, sedangkan kaderisasi dengan melaksanakan proses tujuan imm sehingga terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia untuk mencapai tujuan Muhammadiyah yang tertuang dalam kaderisasi yang dilakukan oleh ikatan. Selanjutnya konsolidasi yang dilakukan oleh ikatan dengan proses penggunaan identitas simbolik dengan memahami makna symbolnya, sedangkan identitas subtansi merupakan kerangkan pikir anggota ikatan. Dalam melakukan konsolidasi ikatan terdapat proses individuasi kader yang mampu melahirkan kolektifitas gerakan, atapun sebaliknya, kolektifitas ikatan mampu melaukan individuasi.”[2]

Adakah yang bisa membantu saya! Apa maksud dari semua ini? Apa maksud dari trem Kristalisasi, Kaderisasi dan Konsolidasi? Apa istilah yang cocok bagi tiga istilah di atas yang belum tergabung dalam satu wadah! Pentingkah ini (kita bahas)? (sangat) PENTING setidaknya bagi saya. Karena (memang) tiga istilah ini menjadi pokok perjalanan (disiplin) suatu Organisasi Kader yang bersekala Nasional. Namun seolah (sedikit) “terlupakan”. Oleh karena itu, (setidaknya bagi saya) penting untuk sekedar merumuskan “wadah” bagi tiga istilah tersebut.
Tri Kompetensi Dasar Ikatan sudah ada, yakni intelektualitas, religiusitas dan humanitas. Trilogi Ikatan; kemahasiswaan, keagamaan dan kemasyarakatan. Namun untuk trem Kristalisasi, Kaderisasi dan Konsolidasi, kira-kira apa ya? (yang cocok!) Apa mungkin TRIO “K” (Trio Ka—red), karena dari ketiga istilah itu konsonan fokal (dasar) huruf pertamanya berawal(an) huruf “K”. Atau mungkin “Tri Software”. Karena saya berasumsi bahwa trem Kristalisasi, Kaderisasi dan Konsolidasi merupakan Software yang cukup urgent dalam menjalani perjalanan pergerakan suatu organisasi (Ikatan). Dan Hardware-nya adalah DAD, DAM, DAP, LID, LIM, LIP Seminar, Talk Show, Demonstrasi dan lain sebagainya.
Ach, tapi itu hanya sebatas “asumsi” saja, tak lebih. Asumsi yang lahir dari seorang manusia bisa. Manusia bisa yang sebagaimana kebanyakan manusia yang lainnya. Sangat dekat dengan ketidaksempurnaan di tengah lautan maha sempurnanya Tuhan.
Jadi, tak perlu ada yang dihiraukan dari tulisan ini, ya sudahlah...[]


[1] Tak kenal maka tak sayang! (maksud...!!) Pedoman Administrasi itu mengunakan 22 page, berkertas A4 (21 cm x 29.7 cm) dengan ukuran top 2.5 cm botton 2.5 cm right 2 cm left 1 cm. Dengan menggunakan font Arial berukuran 11 (besarnya) dan berspasi 1 (spasi) serta secara keseluruhan menggunakan 5.456 word.
[2] Sistem Perkaderan Ikatan.

Little Note

,

—1,
Sore itu sang awan cukup legowo untuk sekedar “mempersilakan” sinar mentari sampai ke lapisan terluar pelanet Bumi. Untuk sekedar menjalankan sunatullah-Nya.  Untuk sekedar menyapa setiap benda yang tersinari olehnya. Dan di beranda Asrama Putra IMM Ciputat (yang terletak di depan gedung UIN Jakarta) saya pun sedang berkontemplasi dengan kang Fidi Baiq lewat buku serialnya, Drunken Mama. Setelah sebelumnya saya melahap habis buku Drunken Moster dan Drunken Marmut. Namun, hingga tulisan ini saya buat, buku pelengkap Drunken Molen (buku kedua dari empat seri lengkap) belum saya mendapatinya.
Huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat, lembar demi lembar hingga tak terasa sudak hampir setengah buku Drunken Mama yang saya baca. Namun tiba-tiba saya berhenti membaca sejenak setelah saya melihat seorang bapak-bapak yang berbadan cukup besar, tinggi, tegap dengan berpenampilan rapi, berkemeja batik, celana jeans dan sepatu pantopel. Saya panggil bapak dalam tulisan ini karena perkiraan saya umurnya sekitar 50 tahun (tak jauh berbeda dengan umur ayah saya di rumah). Bapak itu pun langsung bertanya kepada saya.
“maaf, acara di aula Fastabiqul Khairat sudah di mulai!!!?”
“emmm... sebentar pak!!” jawab saya.
Kemudian segera saya melihat ke dalam aula yang berada tepat disamping kanan asrama. Tapi saya tidak mendapatkan seorang pun disana. Hanya terdapat kursi-kursi yang sudah dirapikan membentuk setengah lingkaran yang menyesuaikan dengan bentuk ruangan (persegi panjang 5x15). Banner/sepanduk terpasang rapi di tembok serta hiasan tulisan besar, ucapan selamat yang dikirim oleh Hj. Airin, SH, MH, walikota Tangsel atas terselenggaranya Musycab XXXII PC IMM Ciputat. Dan dikarenakan saya tidak mendapatkan seorangpun disana, maka setelah itu pun saya segera kembali menghadap bapak tadi, yang menunggu di depan asrama.
Setelah saya berdiri dihadapan beliau, bapak itu pun langsung bertanya untuk yang kedua kalinya (setelah tadi yang pertama).
“asrama di atas, lantai dua sudah di isi?” tanyanya.
“...oow, sudah pak, sudah diisi!!” jawab saya.
Wach, sepertinya saya mengenal bapak ini!!! Naluri saya tidak bisa menolak kalau bapak ini adalah kanda (kanda adalah panggilan untuk alumni/senior organisasi—IMM), tepatnya kanda Safari ANS yang akan mengisi Stadium General Musycab di aula Fascho (akronim dari Fastabiqul Khairat). Sebab 60 menit sebelumnya, ka Nuy (ketua PC IMM Ciputat) mengirimkan SMS via handphone (bukan via JNE, Tiki atau pos kilat).
Asslm..
HADIRI DAN SUKSESKAN MUSYAWARAH CABANG XXXII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Ciputat
Kamis, 29 Desember 2011 pukul 15.00 sd selesai @di Aula Fastabiqul Khairat. Terimakasih.
Di awali dengan stadium general pembicara bpk Safari ANS.
Mohon disebarkan ke kader2 yang lain.
Ternyata benar adanya. Beliau adalah bapak Safari ANS (walau pun saya belum sempat menanyakan nama beliau), sebab setelah itu (yang saya anggap) pak Safari menanyakan tetang Immawan (“culture” panggilan untuk kader laki-laki IMM) Fahmi (Syahirul ‘Alim). Ketua umum PC IMM Ciputat.
de Fahminya ada?”
“ka Fahmi lagi di kantor Cabang pak, di komplek dosen...” behenti beberapa detik, kemudian saya melanjutkan jawaban saya tadi..
“sebentar pak ya, saya hubungi dulu ka Fahminya.”
“O.. iya, ya!!”
Dikarenakan HP saya simpan diatas-kasur-tipis-di-salah-satu-ruangan-asrama-putra-lantai-dua, maka saya pun mohon pamit untuk mengmbil HP tersebut terlebih dahulu!
“mari pak, saya pamit ke atas, mau mengambil HP-nya dulu!!!”
“Oo ya, mari de...
Setelah itu saya lekas naik tangga (satu demi satu) menuju lantai dua, menuju ruangan yang dituju. Kemudian mengambil HP dan segera menghubungi immawan Fahmi.
Tuuuut.. tuuuuut.. tuuuutt..
“ya, zi!! hallo!!!” sahut immawan Fahmi setelah sebelumnya mendengar HP-nya berbunyi dan (mungkin) bergetar sebagai pertanda bahwa ada yang memanggil (calling), dan tercantum nama saya di HP-nya yang meng-calling.
“ieu ang aya pembicara SG di tos sumping, tadi ka Asrama!” Kebetulan, Fahmi itu sedaerah dengan saya, orang Tasik. Jadi bahasa yang saya gunakan, bahasa Sunda. Yang artinya: “ini ka ada pembicara SG udah datang. Tadi ke Asrama!”
“oh, ya zi, saya nuju siap-siap bentar lagi ke sana” Jawab Fahmi. Nuju itu artinya “lagi”.
“oke kang di tunggu”
“ya sip”
Klik

Setelah saya menghubungi immawan Fahmi, lalu saya kembali ke beranda lantai satu untuk menemui pak Safari untuk mengabarkan bahwa sebentar lagi Immawan Fahmi ke sini. Namun beliau sudah tidak lagi di depan asrama. Entah kemana!
Dikarenakan pak Safari tidak ada, saya pun kembali melanjutkan membaca buku Drunken Mama yang tadi sempat terpotong. Namun tak lama setelah itu, pak Safari pun berjalan dari arah kiri asrama. Sambil membawa buku Mizan entah apa judulnya, buku tersebut masih pakai plastik (baru beli di bazar buku-buku Mizan yang berada tepat di samping kiri asrama). Beliau berjalan tepat di depan saya yang sedang membaca tadi, dan segera saya menengok beliau. karena saya melihat beliau. Dan entah siapa yang pertama kali melemparkan senyuman diantara kami, namun yang saya sadari pada saat itu, kami saling melemparkan senyuman.

—2,
Dengan kaos oblong bertuliskan BANDUNG UNDERGROUND yang dari kemarin saya pakai, di tambah almet (Jaket “Merah”) kebanggaan “Ikatan” yang saya kenakan dengan rapi. Celana bahan warna hitam. Bersepatu. Rambut telah saya sisir dengan serapi mungkin (walau pun tetap saja tak kunjung rapi). Dengan tas Netbook melintang (diagonal) di badan, tapi saya tidak membawa netbook didalamnya, melainkan dua buah buku; Drunken Mama Pidi Baiq (yang saya ceritakan di awal) dan buku Yahudi Menggenggam Dunia karyanya Willian G. Carr (yang belum saya ceritakan di awal tulisan ini).
Setelah itu, saya pun segera menuju aula Fascho, memasukinya (masuk-ke-dalam-aula-melalui-pintu-masuknya). Mencari posisi tempat duduk yang masih kosong dan strategis sebagai audiens. Ya, di sana! Tempat duduku yang tepat (setidaknya menurut saya). Karena saya memilih tempat duduk (kursi) kosong yang berada di barisan ketiga (barisan paling belakang), tepat dihadapan saya (sejajar) dengan Banner/sepanduk yang berukuran 3x1 (meter) yang terpasang rapi di depan, dan di depan Banner itu terdapat dua meja yang seolah satu meja panjang, karena telah ditutuoi dan atau dihiasi oleh kain (berukuran panjang nan lebar) berwarna dasar putih dengan sedikit tambahan warna biru dipinggir-pinggirnya. Saya berkeyakinan bahwa, beberapa menit lagi meja tersebut akan digunakan oleh moderator dan pembicara Studium General Musycab XXXII PC IMM Ciputat 2010-2011 ini. Anda tahu? kenapa saya tahu? kenapa saya berkeyakinan? Hal itu tak usah saya jelaskan disini karena itu tidak lah terlalu penting. Setidaknya untuk saya dan juga untuk anda!
Setelah 15 menit saya duduk di kursi yang “beruntung”, beruntung karena telah saya pilih untuk saya duduki. Sebab kalau tidak saya duduki, (mungkin) penciptaan kursi tersebut dan keberadaannya pada saat itu akan terasa sia-sia (walau untuk saat itu). Oleh karena itu, wajar dong kalau saya bilang “beruntung” terhadap kursi yang saya duduki itu.
Pause

Ternyata, ada dua kebenaran yang terbukti pada saat itu, pertama, benar bahwa bapak tersebut adalah kanda Safari ANS (pendiri sekaligus pengurus aktif International Fund For Indonesia Development [IFID] di Hongkong) setelah saya melihat selintas biografi beliau di dua lembar kertas yang dibagikan oleh panitia kepada seluruh audiens yang hadir pada saat itu. Kedua, benar bahwa moderator dan pembicara SG berada tepat di depan saya berada di dua meja yang seolah satu meja panjang karena telah ditutuoi dan atau dihiasi oleh kain (berukuran panjang nan lebar) berwarna dasar putih dengan sedikit tambahan warna biru dipinggir-pinggirnya. (Oh my God, please dech...... penting ga seeeehh..!!!).

—3,
Dengan penuh rasa semangat yang menggebu-gebu, Sang Moderator, Immawati Amalia Nasuha (ketua PC IMM Ciputat) memulai tugasnya dengan membacakan biografi (lebih tepatnya pointer-pointer pengalaman hidup) kanda Safari ANS di mulai dari beliau dilahirkan di Bangka Belitung, sampai tahun 2007 beliau mendirikan organisasi Internasional yang konsen terhadap pengumpulan dana-dana Indonesia yang berada di luar negeri guna mewujudkan kesejahteraan rakyat Indonesia, yakni International Fund For Indonesia Development (IFID) di Hongkong.
Di samping itu, beliau juga dikenal sebagai wartawan senior (dalam sekala nasional) yang mempunyai daya analisis yang cukup tinggi terhadap fenomena-fenomena sosial, politik dan ekonomi yang terjadi di Indonesia. Oleh karena itu, sumbangsih pemikiran beliau sering dijadikan rujukan oleh tokoh-tokoh nasional dalam mengambil kebijakan politik maupun pemerintahan. Sehingga tak jarang beliau di undang ke Cikeas oleh pak SBY (orang nomor wahid di Indonesia).
Setelah moderator panjang lebar memaparkan pointer-pointer pengalaman hidup kanda Safari ANS kepada audiens, kemudian waktu dan kesempatan pun diberikan sepenuhnya kepada kakanda guna mengupas secara mendalam mengenai tema yang diusung oleh panitia pada kegiatan SG tersebut. Yakni “Reorientasi Kepemimpinan; Sebagai Sumbangsih dari Ciputat untuk Bangsa”.

—4,
“Sekitar 25 sampai 30 tahun lebih, baru kali ini saya berada kembali di Aula Fastabiqul Khairat! Ini merupakan kehormatan tersendiri bagi saya di undang oleh IMM, oleh de Fahmi untuk mengisi acara Studium General pada kesempatan sore ini.”
“ada yang ingin saya ceritakan mengenai IFID, organisasi yang saya dirikan.”
Jadi, (menurut beliau) uang negara Indonesia yang berada di luar negeri itu sangat besar jumlahnya. Di Hongkong saja, total uang indonesia itu sebesar 500 Triliun rupiah. Dan kalau di bawa ke Indonesia, ini merupakan dana yang sangat besar untuk membangun Indonesia, mensejahterakan rakyat Indonesia. Dan saya sudah menawarkan kepada mereka untuk membawa uang tersebut ke Indonesia, dan mereka “mau”. Namun, terkendala oleh sisten keuangan kita. Dan sampai saat ini, uang itu masih berada di sana. Di Hongkong.
“tapi uang tersebut tidak bisa kita bawa ke Indonesia” keluh beliau.
Bukan “tidak mau” atau tidak ada niatan baik untuk membawa uang tersebut ke Indonesia, tapi orang Indonesia yang berada di Hongkong itu tidak mau uang tersebut berkurang ketika di bawa pulang ke Indonesia. Karena mereka sadar akan sistem keuangan yang digunakan oleh pemerintah Indonesia. Apalagi, dalam benak “mereka” sudah tertanam sangat kuat tentang keserakahan para “teknokrat” bangsa Indonesia itu sudah sangat akut.
Saya sudah melobi pak SBY dan menteri keuangan tentang hal ini. Namun, usaha saya sia-sia karena mereka bilang bahwa, "mustahil membawa uang sebanyak itu ke Indonesia tanpa dikurangi (pajak) sedikit pun.
“Jadi uang tersebut tidak bisa saya bawa ke Indonesia. Oleh karena itu, saya mendirikan organisasi IFID guna menampung dana-dana tersebut”. Paparan pak Safari. “dan setiap sebulan sekali, selama seminggu saya harus berangkat ke Hongkong memenuhi kewajiban (tugas)” lanjutnya.

—5,
Pesan Kanda Safari ANS untuk generasi muda Muhammadiyah...
“Sebelum saya membahas materi tentang Reorientasi Kepemimpinan, saya ingin berpesan kepada adek-adek selaku kader IMM, kader muda Muhammadiyah. Supaya lebih mendalami dunia pembaruan pemikiran, apa pun profesi yang adek-adek nanti akan jalani kedepannya. Karena setelah saya telaah selaku wartawan senior di Indonesia, bahwa di dalam tubuh Muhammadiyah tokoh-tokoh pemikir itu masih sedikit. Sehingga pembaruan pemikiran di tubuh Muhammadiyah kurang begitu progress. Oleh karena itu, post-post tersebut patut diisi oleh generasi Muda Muhammadiyah (IMM) Immawan dan immawati sekalian”.

—6,
30 menit berlalu...
Kanda safari ANS pun mensudahi pembahasan dari materi makalah yang sudah beliau buat sebelumnya, makalah yang bertemakan tentang Reorientasi Kepemimpinan. Dengan judul Demokratisasi dan Desakralisasi.
“saya kira, karena porsi saya disini sebagai pengantar, maka materi tentang Reorientasi Kepemimpinan dicukupkan sekian. Selanjutnya, barang kali ada yang merasa belum “puas” mari kita perdalam melalui sesi diskusi atau tanya-jawab!” ujar pak Safari sambil duduk menyandar di kursi sembari istirahat sejenak.
pause

Berikut ini, pointer-pointer materi yang saya bisa tangkap (melalui IQ atau pun ingatan yang saya miliki) tanpa saya mencatatnya dalam sebuah catatan kecil. Karena (mungkin) akan sedikit percuma saya mencatatnya dalam sebuah catatan kecil, disebabkan kanda Safari ANS sudah mempersiapkan makalah yang diserahkan kepada panitia untuk digandakan (photocopy) guna diberikan kepada seluruh audiens sebelum SG itu di mulai.
Pertama,
Pasca amandemen UUD 1945 pada tahun 1999-2002, secara otomatis menyebabkan perubahan yang menyeluruh terhadap peraturan perundang-undangan yang berada dibawahnya (UU, PERPU, PERPRES, PP, PERDA). Dan diperkirakan, membutuhkan waktu 20 tahun untuk menjabarkan ayat demi ayat, pasal demi pasal UUD 1945 dalam peraturan perundang-undangan yang berada dibawahnya sebagai aturan pelaksana (peraturan organik). Namun, nyatanya DPR hanya mampu menghasilkan kurang dari 10% dari total kebutuhan UU pada periode ini (terlalu banyak loby-loby).
Kedua,
Otonomi Daerah (OTDA) sebagai wujud dari demokratisasi di Indonesia, nyatanya bukan menjadi solusi yang cukup signifikan bagi perbaikan bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik lagi. Sebagai contoh, Bupati dan atau Walikota bertanggung jawab kepada DPRD tingkat Kabupaten dan atau Kota. Gubernur bertanggung jawab kepada DPRD tingkat Provinsi. Dan presiden bertanggung jawab kepada DPR RI. Dalam hal ini, secara institusi dan normatif, walaupun presiden sebagai kepala negara dan mempunyai kedudukan tertinggi di Indonesia, namun tidak bisa memberikan intruksi ataupun koreksi terhadap kinerja pemerintah daerah baik yang berada di tingkat provinsi maupun daerah. Karena memang, presiden tidak mempunyai kewenangan akan hal itu. Sehingga, di Indonesia ini sangat sulit (sekali) terjadinya kesatuan "visi" antara pemerintah pusat sampai pemerintah daerah. Oleh karena itu, menurut pakar Hukum Tata Negara, sistem Otonomi Daerah dengan sistem Negara federal itu sangat-sangat berbeda “tipis”.
Ketiga,
Pemerintah (pusat sampai daerah) tidak mempunyai perencanaan yang baik dalam menjalankan roda pemerintahannya, sehingga tak jarang menyebabkan tidak terserapnya APBN dan tau APBD secara maksimal untuk kesejahteraan rakyat.
Keempat,
APBN dan atau APBD pemerintah Indonesia, 60-70 persen habis disalurkan untuk membiayai pengeluaran rutin pemerintah (menggaji Pergawai Negeri, PNS, biaya oprasional pejabat pemerintah dan lain sebagainya). Dan sisanya (30-40 persen) digunakan untuk keperluan pembangunan serta kebutuhan rakyat. Oleh karenanya, rakyat Indonesia harap-maklum (jangan “protes”) kalau jalan-jalan (selain jalur provinsi) di daerah anda berlubang, atau aspalnya berkualitas tingkat rendah, dengan alasan kas pemerintah tidak mencukupi untuk perbaikan sarana-sarana umum bagi masyarakat.
Kelima,
Indonesia memiliki nilai “biru” dalam hal pertumbuhan ekonomi, hingga mencapai 5% per tahun. Ini disebabkan karena BUMN-BUMN yang ada di Indonesia itu (mayoritas) dikuasai penuh oleh para pemilik modal (konglomerat) yang mempu bersaing serta meningkatkan perekonomian bangsa Indonesia. Sehingga ditengah krisis global ini, bangsa Indonesia masih tetap bisa bertahan. Bahkan meunjukan pertumbuhan yang positif. Namun disisi lain, karena pertumbuhan ekonomi ini masih dirasakan oleh para konglomerat, belum menyentuh rakyat Indonesia yang berada dilapisan bawah. Oleh karena itu, Indonesia dalam hal pertumbuhan ekonomi menujukan respon yang positif, namun nilai “merah” dalam hal pemerataan ekonomi (bagi seluruh rakyat Indonesia).
Keenam,
“dari awal kami baru menyimak tentang Disorientasi Kepemimpinan bersekala Nasional, namun belum begitu jelas tentang Reorientasi Kepemimpinannya. Oleh karena itu, saya ingin bertanya tentang Reorientasi Kepemimpinan bagi bangsa Indonesia!? Apakah dengan teorinya pak Amien Rais dengan Negara federalnya? Atau teorinya temen-temen komunis (Musso, Aidit) dengan Revolusinya?” tanya saya kepada pak Safari ANS setelah sebelumnya mengangat tangan kanan keatas sebagai tanda saya ingin bertanya.
Reorientasi Kepemimpinan bagi bangsa Indonesia itu adalah bagai mana meminimalisir perbedaan-perbedaan yang ada di tubuh NU dan Muhammadiyah sebagai Ormas terbesar di Indonesia. Karena, ketika NU dan Muhammadiyah sudah bersatu padu untuk membangun Indonesia, maka sistem pemerintah apa pun yang digunakan oleh Indonesia kedepannya, pasti akan baik. Hari ini, Indonesia harus bisa menemukan sosok pemimpin yang bisa menjadi pemersatu antara NU dan Muhammadiyah guna kemajuan bangsa. Serta adek-adek selaku kader muda Muhammadiyah harus bisa mengembalikan Muhammadiyah kepada hittah-nya sebagai Organisasi Masyarakat (Ormas), Gerakan Pembaruan Islam jangan sampai terjebak dalam jeratan politik praktis, yang menobatkan diri sebagi kaum politik puritan”. Beliau menjawab dengan sederhana namun penuh makna dan tentunya cukup sulit, bahkan (sangat) sulit untuk direalisasikan dalam dunia nyata. Tapi, sejatinya: tak ada yang tidak mungkin!

—7,
Adzan Maghrib berkumandang, terdengar jelas suara adzan tersebut, karena berasal dari Masjid Fathullah UIN Jakarta yang berjarak (sekitar) 40 meter dari temapat kami mengadakan Studium General (Aula Fastabiqul Khairat). Sehingga kanda Safari ANS pun sesegera mungkin mensudahi pembicaraannya.
“Mohon maaf jikalau terdapat kekurangan dalam penyampaian materi dalam Studium General kali ini. Karena memang, saya baru dihubungi oleh de Fahmi itu tadi pagi dan waktu menyiapkan makalahnya hanya sekitar dua jam. Maka (dirasa) wajar kalau terdapat kekurangan dalam makalah yang saya buat”.[]
 

Gilad Gibran Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger Templates